Dari Ajang Gau Maraja Maros Campbell Macknight: Secara Teoretis Teknik Penggalian Artefak Tepat

“Mereka menentukan perjalanan secara luas di Sulawesi dan pada tahun 1895, hampir tepat 130 tahun yang lalu, mereka menghabiskan waktu selama seminggu di Leang-Leang. Yang mereka lihat hanya bukti-bukti konkret dari permukaan air laut yang tinggi. Mereka tidak melihat adanya arkeologi dan seni. Ketika mereka kembali ke Sulawesi pada tahun 1902 mereka mendengar cerita dengan orang-orang kecil yang melakukan perjalanan dua kali di Bone Selatan untuk menemukan orang Toala,” kata Macknight.

Dia mengemukakan, penting untuk dipahami kalau hal ini sesuai dengan gagasan lain garis Wallace, mengenai perbedaan ras, khususnya hubungan antara Toala dengan di Srilanka. Mereka mengingat bahwa orang Toala ini tinggal di perlindungan batu kapur, seperti Leang Suru, dengan menggali sekitar mereka menemukan titik batu, peralatan tulang dan bahan lainnya.

Profesor dari Australian National University (ANU) itu mengatakan, seberapa banyak fosil arkeologi digali, tidak jelas. Juga bagaimana cara penggalian stratigrafi dan dari mana peralatan itu berasal. Peralatan tersebut dikumpulkan dan dibawa kembali ke rumah Sarassen di Swiss dan akhirnya disumbangkan di museum di sana. Mereka membandingkan dengan peralatan dari Eropa, namun tidak berhasil dan dengan santai mereka mengatakan bahwa itu lebih mirip dengan peralatan dari Australia.

BACA JUGA:  Lima Presiden di Dunia yang digulingkan Rakyatnya

Pada tahun 1933, Dr.A.A. Cence, ahli bahasa dan teman sekaligus asisten Nuruddin Daeng Magassing, ketika urusan dengan patung Budha di Sempaga Sulawesi Barat itu selesai, masih ada sedikit uang tersisa digunakannya untuk mengunjungi kembali Lamoncong di Bone Selatan. Situs-situs Budha ditemukan karena Nuruddin Daeng Magassing pernah ke sana pada tahun 1902 bersama sepupu Sarasin.

“Kita harus berbuat, lebih banyak memberi perhatian dan mengenang Nuruddin Daeng Magassing. Dia adalah seorang tokoh besar pada tahun 1920-an dan 1930-an pada banyak bidang selain arkeologi dan lokal. Misalnya Pak Nuruddin Daeng Magassing adalah Sekretaris I Muhammadiyah di Makassar pada tahun 1926 dan editor Surat Kabar “Suara Syariat,” ujar Campbell Macknight.

Dalam catatan lain yang ditemukan di dunia maya terungkap bahwa Nuruddin Daeng Magassing termasuk sosok yang menulis buku “Riwaya’na Tuanta Salamaka Syekhu Yusufu” pertama kali pada tahun 1933 dalam cetakan lontara Makassar.

Nuruddin pergi dengan seorang Belanda untuk melihat sebuah situs di Ara Kabupaten Bulukumba dan kemudian melakukan juga penggalian di jalan Camba. Tahun 1937, adalah tahun dengan aktivitas terbesarnya. Peneliti Belanda itu menggali sebuah gua di sebelah utara Pangkejene, kemudian di liang di dekat Bantimurung.