Panas! Jika Saya Menjadi Wali Kota Makassar, Amri Arsyid: Pemimpin itu Harus Memiliki Jiwa Seni

Direktur Ma’Refat Institute ini juga menekankan agar acuan pemerintah dalam RPJP dan RPJMD harus dilakukan karena ini diatur di Undang-Undang (UU) Nomor 23 Tahun 2014.

“Di sini kita bisa memilah di mana visi misi daerah dan visi misi kepala daerah,” tegasnya.

Ia juga menyinggung bahwa mengapa kota Makassar saat ini sangat terasa panas, hal ini karena adanya kekeliruan dalam hal tata ruang ruang.

“Saat ini Kota Makassar menjadi kota terpanas ke-dua setelah Jeddah, hal ini karena ambisi ingin melihat Makassar menjadi kota dunia, sehingga mengabaikan ruang terbuka hijau, sehingga saat ini kota Makassar menjadi terasa panas.

Di sesi lain, Amri menyatakan bahwa apa yang dia cari-cari saat ini, ada di ruangan ini. Dia bahkan berharap agar ada pertemuan non formal berikutnya untuk membuat program dan gagasan terkait kota Makassar.

Diskusi “Mengutui Isi Kepala Calon Wali Kota Makassar” ini dihadiri lebih kurang 50 orang peserta di antaranya, Dr Fadli Andi Natsif (Akademisi), Dr Syafruddin Muhtamar (Akademisi) Dr Dirk Rukka Sandarupa (Akademisi) Muhammad Amir Jaya (Penyair), Yudhistira Sukatanya (Sutradara), Zahir Juana Ridwan (Seniman Pantun) Andi Marliah (Penyair), Muhammad Arafah (Wartawan), M Rusdi Embas (Wartawan), Asnawin Aminuddin (wartawan), Ali Mitos (wartawan) Adnan Achmad (wartawan) serta para ibu komunitas Anak Pelangi dan para aktivis pemuda dan mahasiswa.

BACA JUGA:  Kecil-kecil Cabe Rawit, A Arsy Shidqia Almubarak, Murid SDN Rappocini Makassar Juara Sepatu Roda Nasional