MOMENT TITIK BALIK IKS

Iks
H. Syahrir Nur

NusantaraInsight, Makassar — Reuni, ya acara hari itu, Ahad 28 Maret 2026 pagi di Top Pena Café & Resto yang sejuk, tepatnya di lantai 19 Graha Pena Fajar, hadir sekira 40-an alumni Institut Kesenian Sulawesi, IKS.

Mereka berkerumun, masing-masing 6 hingga 8 orang menempati kursi di sisi meja bundar bertaplak merah yang ditata rapi.

Acara ditasbihkan bertajuk Silaturahmi dan Reuni Alumni IKS. Terselenggara atas inisiasi H. Syahrir Nur, Andi Sorayantina Mattalatta dan Hamsiah Daeng Kebo.

Adalah pertemuan kembali para alumni antar generasi setelah berpisah cukup lama.

Hadir dalam acara tersebut, Maestro Tari Hj Munasiah Daeng Jinne, drg Ita Isdiana Anwar, M.Kes, Rosmala Dewi, Butet Maggo, Dewi Ritayana dan H.Nawir mewakili Ketua Dewan Kesenian Makassar, DKM, serta sejumlah tokoh seni budaya lainnya.

Kegiatan tersebut dimaksudkan untuk menjalin silaturahmi, bernostalgia mengenang masa lalu, sambil membuka peluang jaringan (networking) sosial baru serta merencanakan gagasan ke masa depan.

Aktivitas acara yang di pandu oleh MC Hj Sofrani Razak, mantan Kepsta RRI, diawali dengan tari penyambutan Pakduppa karya Ibu Andi Nani, dilanjutkan oleh H. Syahrir Nur yang dalam sambutannya mengatakan, sekira 70-80 orang anggota IKS telah mengkonfirmasi kesediaan menghadiri acara temu kangen itu, namun hanya 70 persen saja yang datang.

BACA JUGA:  Klinik Disdik Sulsel Gelar Edukasi Kesehatan

Meski demikian mantan sekretaris IKS itu tetap bersemangat, karena dengan kehadiran pa tetamu, menjadi penanda bahwa IKS masih bisa dikembangkan dengan arah dan tujuan yang jelas. Utamanya yakni dalam membina moral anak bangsa melalui aktivitas kesenian daerah yang teratur dan terarah dimasa datang.

Kemudian dilanjut dengan testimoni dr Andi Faridha Matalatta Sp A. dan dr Andi Sorayantina Matalatta yang mengenang momen yang berfokus pada suka duka dan kenangan manis bersama di masa lalu, sambil berbagi informasi kehidupan saat ini dan mempererat pertemanan, kekeluargaan. Mengedepankan kebersamaan, kesetaraan, tanpa memamerkan jabatan, kekayaan atau status sosial.

drg Ita Isdiana Anwar, M.Kes, dalam testimoninya menyampaikan terima kasih pada IKS yang telah membekalinya dengan mental cukup siap untuk tampil di depan umum. Sebelum bergabung ke IKS ia selalu merasa sangat risih ketika terpaksa harus melintas di depan orang banyak. Selain itu ia juga sangat bangga dengan IKS yang telah membekalinya bekal pengetahuan dan keterampilan dalam menari hingga mengantarkan timnya dari UNHAS Juara di PEKSIIMINAS beberapa tahun lalu.

BACA JUGA:  252 Dosen ADPERTISI dan 6 Profesor Peserta PKM Nasional di Maros

“Institut Kesenian Sulawesi (IKS) salah satu organisasi kesenian di Sulsel yang pernah punya nama dan melampaui kepopuleran organisasi kesenian lainnya, sudah lama tak melakukan kegiatan.‘‘ Ungkap Andi Tonra Mahie, Jurnalis senior yang setia menggawangi penerbitan “Matahari Timur“ dan sering berkiprah mempublikasi acara IKS di masa lalu.