Di akhir kegiatan, Badaruddin menyampaikan harapannya agar Metode Pappasang tidak berhenti di Kecamatan Lau saja, tetapi dapat terus berkembang dan tersosialisasi secara luas di seluruh Sulawesi Selatan, khususnya di Kabupaten Maros.
Di tengah arus globalisasi yang kerap menggerus nilai-nilai lokal, Metode Pappasang hadir bukan sekadar sebagai strategi pembelajaran, melainkan sebagai gerakan kultural—menghidupkan kembali suara leluhur dalam ruang-ruang kelas, agar pendidikan tidak hanya mencerdaskan, tetapi juga membumikan nilai dan membentuk karakter.












