NusantaraInsight, Pinrang — Sampai saat ini, limbah rumah tangga khususnya sampah organik menjadi isu krusial di berbagai wilayah di Indonesia.
Meningkatnya volume sampah, terutama sampah organik mengancam lingkungan dan kesehatan masyarakat.
Untuk mengatasi hal itu, harus ada pemahaman tentang pengelolaan limbah rumah tangga. Salah satunya mengolahnya menjadi pupuk kompos.
Sayangnya, masih banyak masyarakat yang belum menyadari potensi dan manfaat pupuk kompos. Mereka belum memahami cara mengolah sampah organik menjadi pupuk kompos yang berkualitas.
Akibatnya, banyak potensi pupuk kompos yang terbuang sia-sia dan masyarakat terus bergantung pada pupuk kimia yang dapat mencemari tanah dan air.
Mahasiswa Kuliah Kerja Nyata Gelombang 113 Universitas Hasanuddin menggelar sosialisasi di Desa Polewali, Kecamatan Suppa, Kabupaten Pinrang.
Kegiatan tersebut dilaksanakan pada tanggal 24 Januari 2025 tepatnya di kantor Desa Polewali.
Ummi Kalsum selaku penanggung jawab kegiatan sosialisasi menjelaskan kepada media NusantaraInsight, Rabu (12/2/2025) bahwa pengolahan limbah menjadi pupuk kompos tidak hanya membantu mengurangi volume sampah, tetapi juga memberikan manfaat ekonomi bagi masyarakat.
Menurutnya, saat pemaparan berlangsung, dijelaskan pula proses pembuatan pupuk kompos. Mulai dari alat dan bahan, wadah ember dan sejenisnya, EM-4 untuk pertanian, air, limbah rumah tangga, dan molasse.
“Dengan memanfaatkan limbah rumah tangga, masyarakat dapat menghasilkan pupuk yang dapat digunakan untuk pertanian atau kebun mereka sendiri, sehingga mengurangi biaya pembelian pupuk kimia dan lebih ramah lingkungan,” ujarnya.
Kegiatan ini diharapkan dapat memberikan pengetahuan baru bagi masyarakat dalam mengelola limbah rumah tangga secara efektif.
“Dengan adanya sosialisasi ini, diharapkan masyarakat Desa Polewali dapat lebih sadar akan pentingnya pengelolaan limbah dan berkontribusi dalam menjaga lingkungan serta meningkatkan produktivitas pertanian lokal,” tutupnya.












