Menurutnya, kekayaan budaya, sejarah, kuliner, dan kearifan lokal Sulawesi Selatan merupakan modal penting dalam membangun citra pariwisata Makassar. Namun, potensi tersebut perlu dikemas dalam narasi digital yang autentik, kreatif, menarik, dan konsisten.
“Peran influencer dan media sangat strategis, tetapi narasi yang dibangun harus tetap mencerminkan identitas budaya lokal sehingga mampu memperkuat positioning Makassar sebagai destinasi wisata unggulan,” ujarnya.
Ia menekankan bahwa penggunaan teknologi digital dalam promosi pariwisata tidak boleh menyebabkan identitas lokal kehilangan makna. Transformasi digital justru harus menjadi sarana untuk memperkenalkan nilai budaya masyarakat Makassar dan Sulawesi Selatan kepada khalayak yang lebih luas.
Karena itu, kolaborasi antara pemerintah, akademisi, pelaku pariwisata, media, komunitas, dan kreator konten menjadi penting untuk menghasilkan narasi yang tidak hanya menarik secara visual, tetapi juga memiliki kekuatan sejarah, budaya, dan nilai edukasi.
Rekomendasi Kebijakan untuk Pemerintah Kota
Tim peneliti dalam kajian tersebut terdiri atas Dr. Muhammad Yahya, M.Si.; Andi Herenal Daeng Toto, S.E., M.M.; Indah Pratiwi Manggaga, S.Sos., M.A.; Riskasari, S.Sos., M.AP.; Sitti Rahmawati Arfah, S.Sos., M.Si.; dan Munawir, S.Ag.
Selain menghasilkan model Collaborative Governance dalam Smart Tourism Branding, penelitian ini menargetkan publikasi pada jurnal internasional bereputasi, penyusunan policy brief, serta pembuatan peta jalan atau roadmap implementasi.
Hasil penelitian tersebut diharapkan dapat menjadi acuan bagi Pemerintah Kota Makassar dalam memperkuat tata kelola pariwisata berbasis kolaborasi dan transformasi digital.
Melalui penelitian ini, Unismuh Makassar kembali menegaskan peran perguruan tinggi Muhammadiyah dalam menghasilkan kajian akademik yang tidak berhenti pada pengembangan ilmu pengetahuan, tetapi juga diarahkan untuk memberikan solusi terhadap persoalan pembangunan daerah.
Kolaborasi lintas sektor diharapkan mampu melahirkan ekosistem promosi pariwisata yang lebih terarah, inklusif, dan berkelanjutan, sekaligus memperkuat citra Kota Makassar sebagai kota budaya, kota kuliner, dan pintu gerbang pariwisata kawasan Indonesia Timur.***












