Dr Sitti Suryani, Penulis Buku Ragam Hias Budaya Makassar

Dr Sitti Suryani, S,Pd, M,Pd
Dr Sitti Suryani, S,Pd, M,Pd

Diakui, ada beberapa kendala dan tantangan dalam mengembangkan ragam hias Makassar. Antara lain, kendala dalam managemen waktu untuk mengembangkan motif, alat dan bahan terbatas bahkan ada yang sudah tidak tersedia, serta referensi yang juga masih terbatas. Selain itu, tantangan kurangnya daya tarik, karena tidak difungsikan sebagi bentuk keindahan dan kebudayaan religi. Contohnya, fungsi gentong, masyarakat sudah beralih ke yang modern. Belum lagi, masyarakat cenderung lebih tertarik pada produk luar.

Tentu kondisi ini disayangkan. Karena, menurutnya, ragam hias Makassar penting diajarkan di sekolah. Hal itu supaya siswa mengenal dan tahu motif lokal ragam hias Makassar dan mencintai budaya kita. Pengenalan budaya Makassar, lewat ragam hias ini penting diperkenalkan sejak anak-anak duduk di bangku Taman Kanak-Kanak (TK). Misalnya, melalui kegiatan mewarnai gambar ragam hias Makassar. Sedangkan untuk anak-anak SD, mereka diajak untuk menggambar dan mewarnai ragam hias Makassar, lalu untuk tingkat SMP dan SMA bisa dengan kegiatan menggambar dan menerapkan gambar tersebut pada bahan tekstil dan kayu.

BACA JUGA:  Dipimpin Sekum PGRI Sulsel, Panitia PGRI Tinjau Venue pertandingan

“Kalau untuk model pembelajarannya, dilakukan secara berdeferensiasi dengan mengelompokkan siswa yang bisa menggambar, siswa yang kurang bisa dan yang belum bisa menggambar,” kata guru yang sudah mengabdi di SMP Negeri 3 Pattalassang selama 12 tahun itu.

Sebelum mengajar di sekolah yang sekarang, Suryani pernah mengajar di SMP Negeri 2 Kota Bima, Nusa Tenggara Barat (NTB). Dari pengalaman mengajar itu, dia menemukan formula pembelajaran menggambar ragam hias. Ditambahkan, berdasarkan pengelompokan siswa yang bisa, kurang, dan belum, maka metode pembelajaran yang dilakukan menggunakan tutor sebaya. Katanya, agar pembelajaran menyenangkan siswa diajar belajar di alam untuk menggambar dan mengamati lingkungan sebagai sumber belajar.

Suryani mengapresiasi perhatian pemerintah terhadap ragam hias Makassar yang sudah mulai terlihat pada industri fesyen. Paling tampak pada seragam batik dengan motif Sultan Hasanuddin, Syech Yusuf, dan batik dengan motif aksara Lontarak. Publikasi motif-motif ini bisa ditemui di internet. Namun, pengenalan motif-motif ragam hias Makassar dalam bentuk buku masih sangat langka. Perupa Makassar, terutama di Kabupaten Gowa, juga sangat terbatas mengangkat dan mempromosikan ragam hias budaya Makassar ini.

BACA JUGA:  Murid SD Negeri Parinring Bagikan 204 Paket Takjil Sebagai Wujud Kepedulian Sosial

“Kita masih sangat butuh modul dan buku ragam hias Makassar sebagai bahan referensi untuk pengembangan desain model pembelajaran Seni budaya, baik dalam bentuk produk media elektronik maupun produk media cetak,” tandas Suryani. (*)