“Melihat anak-anak muda yang masih mau duduk bersama untuk belajar tentang agama di tengah hiruk-pikuk dunia hari ini sungguh membuat hati ini terharu”, ujarnya dengan penuh rasa syukur.
“Bahwa kegiatan seperti ini menjadi pengingat dalam menuntut ilmu agama bukan sekedar menambah pengetahuan, tetapi juga menumbuhkan adab, keikhlasan, dan kedekatan dengan Allah. Selama cahaya ilmu dan iman masih dijaga di hati generasi muda, insya Allah masa depan umat akan tetap bercahaya,” tutupnya.
Sebagai pemateri utama, Ustazah Ariani Abbas, S.Pd. menyampaikan materi yang menggugah perasaan dan menyentuh sanubari. Dengan tutur yang lembut namun sarat makna, beliau mengajak para peserta untuk menelusuri hakikat cinta yang sejati, cinta yang bukan sekedar rasa, tapi bentuk ibadah dan penghambaan kepada Allah.
“Setiap manusia pasti akan berhadapan dengan kehilangan. Tapi sesungguhnya, di balik kehilangan itu ada pelajaran yang ingin Allah sampaikan. Kadang, Dia mengambil sesuatu agar kita bisa melihat apa yang selama ini luput kita syukuri,” tuturnya.
Beliau juga menekankan pentingnya menghargai waktu sebagai amanah kehidupan.
“Waktu bukan sekadar detik yang berjalan. Ia adalah saksi. Setiap detik akan menanyakan, untuk apa engkau hidup hari ini? Karena waktu yang terlewat tanpa makna, adalah kehilangan yang paling sunyi,” jelasnya.
Kegiatan dirangkaikan pula dengan pembagian grand prize dan door prize menarik bagi para peserta yang aktif selama kegiatan berlangsung. Suasana semakin hangat ketika peserta menyampaikan kesan dan pesan mereka, menggambarkan rasa syukur dan bahagia bisa menjadi bagian dari kegiatan yang sarat makna ini.
Nur Azizah mahasiswi Universitas Muhammadiyah Bulukumba, mengungkapkan kesannya sepanjang mengikuti Dialog Mahasiswi.
“Di tengah kesibukan kuliah. Saya jadi sadar bahwa kehilangan bukan berarti berakhir, tapi kadang justru menjadi cara Allah mengajarkan arti cinta yang sebenarnya. Setiap kehilangan membawa kita pada cahaya baru, kalau kita mau melihatnya dengan hati. Yang membuat acara ini berbeda adalah suasananya. Semua peserta seperti saudara. Kami datang dengan hati yang mungkin lelah, tapi pulang dengan hati yang lebih tenang,” jelasnya.
Acara diakhiri dengan pembagian kelompok belajar, sebagai bentuk tindak lanjut agar semangat yang tumbuh dari kegiatan ini tidak berhenti di ruang dialog, melainkan terus hidup dalam lingkar-lingkar ilmu dan ukhuwah yang penuh keberkahan.
Reporter: Zahratul Jannah
Editor: Mutmainnah Jufri












