NusantaraInsight, Makassar — Langit Makassar yang warnanya perlahan melunak menuju jingga, tak berhujan. Minggu, 15 Februari 2026, ketika jarum jam menunjuk pukul 15.30 WITA di Museum Kota Makassar yang terletak di Jalan Balai Kota, Makassar, dibuka ruang refleksi bertajuk “Tionghoa Dalam Kebhinekaan”. Sebuah narasi besar tentang keberadaan dan proses menjadi satu, aklulturasi dan masa depannya.
Kegiatan ini hadir bukan sebagai seremoni formal belaka, melainkan sebuah perjumpaan lintas gagasan. Berusaha untuk menegaskan kembali bahwa Kota Makassar yang multietnik, seperti rumah besar yang atapnya cukup lebar untuk memayungi setiap helai perbedaan.
Dr. Ir. Yonggris, MM selaku ketua panitia pelaksana, pada sambutannya menyatakan; merasa senang dan bangga karena perhelatan jelang perayaan Imlek 2026 tahun bershio Kuda Api ini dihadiri sejumlah pihak dari berbagai kalangan, tokoh masyarakat Tionghoa, akademisi, seniman, kolektor barang bersejarah dan budayawan pemerhati Budaya Tionghoa.
Dipandu Apt. George Nurtani, MM. dialog dipaparkan melalui tiga perspektif berbeda, diarahkan bermuara pada satu titik bincang utama: memahami keberadaan warga etnik Tionghoa dalam pluralitas kebudayaan berkelanjutan.
Ir. Arwan Tjahjadi; Praktisi, pegiat budaya Tionghoa memandang kebhinekaan dengan kacamata pragmatis namun disajikan dengan hangat, sarat data. Baginya, kontribusi nyata etnis Tionghoa di Makassare sejak awal telah menggerakkan urat nadi perdagangan, pendidikan dan kebudayaan di Makassar. itu adalah bukti nyata bahwa perbedaan justru memperkaya keberagaman.
“Di bidang seni, ada seniman Ho Eng Djie atau Baba Tjoi, pencipta, penulis lagu-lagu Makassar yang legendaris. Ia menggubah ratusan lagu bergaya kroncong dan langgam dari tahun 1920-an hingga 1950-an. Artis rekaman ini mendapat pengakuan resmi dari Presiden Sukarno pada tahun 1953.” ungkap Arwan, sambil memperlihatkan koleksi piringan hitamnya.
Di kesempatan kedua Dr. Mukhlis Paeni, MA, ketua Dewan Pakar MoW ( Memori of The World ) Indonesia – Unesco, mengajak peserta diskusi kembali menelusuri ke lorong-lorong sejarah, mengingatkan bahwa jejak Tionghoa telah lama tercatat dalam perjalanan Nusantara, juga Makassar.
Ketua Dewan Pakar Memori Kolektif Bangsa itu mengatakan; “Sejak Abad 16 sudah ada catatan keberadaan orang-orang Tionghoa di Somba Opu. Kepala Loji Inggris di Somba Opu pernah mengirimkan surat kepada Gubernur Inggris di India pada 16 Juli 1615 tentang kegiatan orang-orang Inggris yang berdagang beras ketan untuk bahan Ciu/ arak dengan orang Tionghoa.”












