Saya santai mengendarai sepeda motor ber-velg bintang itu. Speedometer saya hanya menunjukkan kecepatan rata-rata 40-an km/jam.
Saya tiba di lokasi sebelum acara dimulai. Kami, para komisioner terpilih, tampil necis dan rapi.
Lelaki mengenakan setelan jas dan berkopiah atau dalam bahasa undangannya disebut PSL (pakaian sipil lengkap), dan perempuan mengenakan busana nasional, dalam hal ini berkebaya, dan berkerudung.
Setelah prosesi pelantikan oleh Wakil Gubernur Sulawesi Selatan, Agus Arifin Nu’mang, di Aula Diskominfo Provinsi Sulawesi Selatan, kami pun menuju salah satu ruangan. Tujuannya untuk melakukan pemilihan ketua dan wakil ketua, supaya tidak ada kekosongan kepemimpinan.
Kepala Sekretariat KPID Sulawesi Selatan, H Banodding, dan staf hadir. Mereka memberi selamat kepada kami, dengan bersalaman, lalu berfoto bersama.
Pemilihan mau tidak mau dilakukan secara voting karena ada lebih dari 1 kandidat. Bahkan penghitungan suara dilakukan 2 putaran. Pasalnya, pada tahap pertama, terdapat 3 nama yang mengemuka. Saya, Andi Fadli, dan Dr Sukardi Weda, masing-masing mengantongi suara.
Sebelum dilakukan voting pada putaran kedua, kami bertiga menyampaikan semacam visi misi, apa yang nanti akan kami lakukan bila terpilih.
Setelah voting kedua, komposisi suara berubah. Perolehan suara saya bertambah. Dr Sukardi Weda memberikan suaranya untuk saya.
Begitu dipastikan bahwa saya terpilih sebagai Ketua KPID Sulawesi Selatan, periode 2011-2014, saya langsung mengulurkan tangan, menyalami semua teman komisioner. Saya mengucapkan terima kasih atas amanahnya.
Sebaliknya, staf yang hadir seketika memberi selamat kepada saya. Kepada mereka saya meminta dukungan, biar solid sebagai team work.
Sebelum meninggalkan lokasi, Kepala Sekretariat KPID Sulawesi Selatan, H Banodding, bertanya kepada saya, “Naik apa ki ke Dishubkominfo?”. Saya jawab, “Naik sepeda motor.”
Beliau lantas memanggil Amir, driver mobil dinas KPID Sulawesi Selatan, agar mengikuti saya pulang ke rumah. Setelah tiba di rumah untuk mengganti baju, salah seorang anak saya, menyambut di depan pintu.
Suaranya yang polos bertanya, “Jadi ketua ki, Pak?”
Saya hanya menjawab singkat, “Alhamdulillah.” Lalu saya memeluknya.
Rupanya dia sudah melihat mobil Toyota Innova warna merah yang siap menjemput saya kembali ke kantor di Jalan Bontolempangan Nomor 48.
Sejak saat itu, selama tiga tahun, mobil Toyota Innova tersebut mengantar saya pulang-pergi kerja rumah-kantor, juga membawa saya dalam perjalanan dinas ke berbagai tempat di 24 kabupaten/kota se-Sulawesi Selatan.












