Menurut teman yang bercerita itu, belum saatnya bicara ketua. Biar selesai dahulu tahapan seleksi, baru kemudian membahas siapa ketua selanjutnya.
Sampai kami kembali tiba di Makassar, teman yang disebut namanya itu tidak membalas. Dia hanya tertawa, begitu mendengar cerita tentang dirinya.
Perbincangan tentang siapa yang bakal melanjutkan kepemimpinan KPID Sulawesi Selatan setelah Pak Aswar, memang cukup santer, saat itu.
Spekulasi kian berkembang, apalagi setelah ada perpanjangan masa jabatan selama kurang lebih 6 bulan.
Periode kami mestinya berakhir di tahun 2010. Setelah terbit Keputusan Perpanjangan Masa Jabatan, yang ditandatangani Gubernur Sulawesi Selatan, Dr Syahrul Yasin Limpo, pada 5 Juli 2010, maka menjadi dasar bagi kami tetap melanjutkan tugas-tugas dan kewenangan sebagai komisioner.
Pak Aswar, yang berlatar belakang dosen dan kolumnis, dinilai berhasil meletakkan fondasi bagi KPID dan membuat sejumlah terobosan di masanya. KPID Award, GeMeS (Gerakan Menonton Sehat), dan 2 rekor MURI, merupakan beberapa catatan keberhasilannya.
Rekor MURI ini diraih terkait peran media penyiaran dalam sosialisasi pencegahan virus flu burung (H5N1) melalui program talk show dengan relay radio terbanyak, yakni 230 radio.
Peristiwa bersejarah di bulan Februari 2007 itu merupakan kerjasama KPID Sulawesi Selatan, dengan Pemprov Sulawesi Selatan, Unicef, dan PD PRSSNI Sulawesi Selatan.
Tahapan dimulainya proses perizinan TV dan radio untuk memperoleh Izin Penyelenggaraan Penyiaran (IPP), juga dilakukan di masa Pak Aswar, di mana saya sudah menjadi bagian dari KPID Sulawesi Selatan. Ini merupakan periode kedua beliau, tetapi periode pertama bagi saya.
Batasan masa jabatan yang hanya membolehkan 2 periode, membuat posisinya sebagai komisioner dan ketua mesti ditinggalkan.
Di sinilah dinamika itu terjadi, dengan beberapa nama yang sempat mengemuka. Saya termasuk salah seorang yang disebut-disebut sebagai calon penggantinya.
Saya ingat, pernah dalam sebuah diskusi di salah satu resto di Jalan Andi Mappanyukki, Andi Taddampali sebagai moderator berseloroh, “dari ketua ke calon ketua”. Rupanya, candaannya itu diprotes karena dinilai menggiring opini publik.
“Ada yang kirim SMS ke saya. Dia protes, katanya, jangan mengarahkan hehehe,” bisik Wakil Ketua KPID Sulawesi Selatan, periode 2007-2010, yang populer dengan nama udara Andi Mangara di Radio Mercurius FM itu.
Tema diskusinya, ketika itu, tentang siaran anak, yang menghadirkan narasumber Nina Mutmainnah (Wakil Ketua KPI Pusat), Aswar Hasan, dan saya yang membidangi isi siaran. Isu media dan anak ini menjadi fokus saya, jauh sebelum saya bergabung di KPID.












