“Kapalnya goyang karena melawan arus. Ini pengaruh mau mi masuk angin muson timur,” jelas H Gaffar.
Sebagai orang awam, saya manggut-manggut mendengar penjelasan sederhana itu. Pengalaman H Gaffar dan Jamal, membuat mereka belajar dari angin dan laut, sehingga bisa membaca kondisi alam.
Setelah memakan waktu perjalanan kurang dari satu jam, KM Rinjani Jaya akhirnya tiba di Dermaga Pulau Barrang Lompo.
Jam tangan saya menunjuk angka pukul 11.55.
*Studi Penjajakan Tim Pra-PARKIR*
Setelah tiba di Barrang Lompo, kami menuju Penginapan & Kos “Balla Jeknek”, yang berada persis di samping kiri dermaga.
Saya menduga nama penginapan ini terkait dengan posisinya yang berada tepat di atas air laut. “Balla Jeknek” dalam bahasa Makassar, artinya rumah air.
Penginapan milik Haji Ella ini cukup strategis dan relatif aman karena bersebelahan dengan kantor polisi dan dekat Kantor Kelurahan Barrang Lompo.
Setelah menaruh barang, kami menuju ke rumah Mardiana, yang merupakan warga Pulau Barrang Lompo.
Di rumah wanita berhijab yang akrab disapa Daeng Dadi ini, kami berkenalan, bertukar pengalaman, berdiskusi.
Muti menjelaskan tentang Program PARKIR, akronim dari Pojok Belajar Rakyat Kota untuk Inisiatif Inklusif Rendah Emisi.
Program PARKIR oleh WRI Indonesia adalah inisiatif penelitian kolaboratif dan pengarsipan pengetahuan untuk mendorong mobilitas kota yang inklusif, aman, dan berkelanjutan.
Program ini didukung oleh UKPACT untuk mengatasi tantangan transportasi kelompok rentan.
Kegiatan yang lebih terasa sebagai obrolan ini, berlangsung di teras rumah Daeng Dadi, yang diteduhi pohon jambu dan pohon mangga. Kami duduk lesehan, melingkar.
“Kegiatan ini, merupakan Pra-PARKIR untuk mengumpulkan data dan informasi,” terang Muti.
Rizza menambahkan, Program PARKIR pertama sudah diadakan di Palmareh, Jakarta Barat. Dari situ mereka mendapat gambaran tentang pengalaman warga kampung kota dan tantangan mobilitas.
Untuk memahami lanskap transportasi secara nasional, studi PARKIR diadakan di tiga kota utama, yakni Makassar, Surabaya, dan Semarang. Studi yang sama dilakukan juga di wilayah perkampungan kota di Jakarta Barat, seperti Palmerah.
Di tengah-tengah diskusi, sesekali terdengar teriakan pedagang kue keliling menawarkan jualannya: jalangkote… jalangkote….
Daeng Maliq bilang, “Wah, kayaknya ini kode.” Celetukan itu disambut gelak tawa kami.
Karena teriakan yang sama kembali berulang, saya sampaikan bahwa wajar kalau dia kembali lagi. Karena jalan di pulau ini ya itu-itu saja, dan terhubung satu dengan lainnya. Tidak akan bisa nyasar.












