Lalu dari tas kecilnya ia mengeluarkan tiga buku tua. Halamannya menguning. Tinta di beberapa bagian memudar.
Buku-buku itu tampak seperti saksi perjalanan waktu.
Ia mulai berbicara.
Kata demi kata keluar dari mulutnya. Saya menulis tanpa berhenti.
Jarum jam bergerak perlahan.
Aneh sekali wajahnya tetap segar. Tidak ada tanda kantuk sedikit pun.
Malam itu saya merasa seperti sedang duduk di depan mata air pengetahuan lama.
Rumus Ilmu yang Tersembunyi
Ketika waktu sahur tiba, kami berhenti sejenak. Saya mengantar tete bersama cucunya ke restoran hotel untuk makan sahur. Setelah itu saya kembali ke kamar untuk shalat tahajud dan sahur dengan roti yang sengaja saya beli sebelumnya.
Usai sahur, kami kembali duduk di meja kecil itu.
Ilmu terus diturunkan hingga azan subuh berkumandang.
Kami berhenti sejenak untuk shalat.
Setelah shalat subuh, percakapan masih berlanjut hingga sekitar pukul enam pagi.
Kemudian sang tete pamit.
Ia harus kembali ke rumah untuk berkemas dan menuju pelabuhan, kembali ke Maluku.
Saya tetap tinggal di kamar hotel.
Di atas meja kecil itu, saya mulai menyalin kembali semua catatan yang saya tulis sepanjang malam.
Saya membaca setiap kalimat dengan perlahan.
Merenunginya.
Menganalisisnya.
Dan di situlah saya menemukan sesuatu yang sangat menarik.
Ilmu-ilmu yang diajarkan oleh tete ternyata memiliki struktur yang sangat logis.
Dari catatan itu, saya menemukan sebuah rumus sederhana yang terasa sangat dalam:
Ilmu kuat adalah logika yang ditafsirkan, kemudian diyakini, lalu berubah menjadi kekuatan.
Logika
→ Tafsir
→ Keyakinan
→ Kekuatan
Saya menyadari sesuatu.
Apa yang sering disebut ilmu kuat di banyak kampung sebenarnya bukan sebatas mantra.
Ia adalah logika yang ditafsirkan melalui pengalaman, lalu diyakini hingga menjadi kekuatan mental dan spiritual.
Dalam tradisi kampung, kata-kata bukan sebatas bunyi.
Kata-kata adalah program bagi pikiran manusia.
Ketika seseorang mengucapkan doa atau kalimat tertentu dengan keyakinan yang kuat, tubuhnya merespons. Rasa takut berkurang. Keberanian meningkat. Energi mental muncul.
Dalam psikologi modern, ini dikenal sebagai sugesti positif.
Sebagaimana ditulis oleh ulama besar Islam, Ibn Qayyim al-Jawziyyah :
“Kata-kata yang diyakini oleh hati dapat mempengaruhi jiwa bahkan tubuh manusia.”
Sementara ulama besar Indonesia, Buya Hamka, pernah mengatakan :
“Keyakinan yang hidup dalam jiwa manusia dapat mengalahkan kelemahan tubuhnya.”
Semakin saya membaca catatan itu, semakin saya memahami sesuatu.
Ilmu-ilmu kampung sebenarnya berdiri di atas tiga pilar utama :
Bahasa — Keyakinan — Pengalaman












