Perilaku berbisnis yang terjadi di internal PT Garuda pun dibeber Tanri Abeng. Pada halaman 263. Fachry Ali menulis:
“Dalam PT Garuda, misalnya, hampir semua kontrak pengadaan, dari tisu toilet sampai penyewaan dan pembelian pesawat, ternoda korupsi, kolusi, dan nepotisme (KKN). Bahkan penjualan tiket pesawat dimanipulasi oleh staf perusahaan penerbangan ini dengan memperlihatkan seakan-akan penerbangan telah penuh yang dalam kenyataannya hanya terpesan setengah. Pelanggan yang membutuhkan tiket pesawat harus membayar lebih dari harga tiket normalnya. Jenis praktik KKN ini juga menjadi ciri khusus di dalam birokrasi pemerintah di mana prinsip-prinsip tata kelolanya seakan-akan berbunyi: “Jika bisa dibuat susah, kenapa dipermudah,” tulis Fachry yang dikutip dari buku Tanri Abeng: “Indonesia Inc”. hlmn 72.
Guna mengatasi kondisi keuangan Garuda yang sudah minus 300 dolar AS tersebut, Tanri Abeng bertemu dengan Presiden Bank Dunia guna membicarakan kemungkinan memperoleh utang bagi PT Garuda Indonesia sebesar 300 juta dolar AS. Usaha Tanri ini berkaitan dengan kondisi finansial PT Garuda yang secara teknikal-akuntasi telah bangkrut. Karena itulah, Presiden Soeharto meminta secara khusus menerima Tanri Abeng menyelamatkannya. Dan, usaha Tanri tidak sia-sia. Dana Bantuan Bank Dunia itu direalisasikan ketika Abdul Gani menjabat direktur utama BUMN maskapai itu, sebagaimana dijelaskan Tanri Abeng kepada Fachry Ali di Denpasar Bali, 22 September 2018.
Nah, begitulah rangkaian cerita perjalanan PT Garuda Indonesia sejak awal era reformasi. Tentu saja, cerita di kekinian, kita sudah membacanya. Bagaimana menurut Anda?
Setelah acara peluncuran usai, saya dan Dr. Tammasse menyusul Pak Tanri Abeng ke kediamannya. Tujuannya, akan melakukan wawancara berkaitan dengan pengalamannya sebagai alumnus AFS. Wawawancara berlangsung beberapa puluh menit karena kami menyadari beliau perlu istirahat.
Menjelang saya dan Dr.Tammasse meninggalkan kediamannya,tiba-tiba saja Pak Tanri Abeng ingin menitip sesuatu.
“Saya mau titip satu eksemplar buku untuk Pak Halide. Kenalkan?,” tanyanya.
“Oh..iya. Saya kenal baik. Nanti saya antar ke kediaman beliau. Masih tinggal di Kampus Baraya, di dekat gedung Fakultas Ekonomi dulu,” kata saya.
“Oh…iya, saya sama-sama kuliah dengan Pak Halide,” tambahnya lagi, kemudian membubuhkan tanda tangan stempel dan beberapa kalimat di halaman depan bukunya yang tebalnya 473 halaman dan diterbitkan Penerbit PT Elex Media Komputindo Kompas Gramedia. Kami pun mohon diri dari rumahnya yang asri.
Pertama Alphard Tembus Lorong
Dua minggu setelah pertemuan di Jakarta itu, Pak Tanri Abeng ke Makassar. Rupanya beliau ingin melihat Pusat Kegiatan Masyarakat (PKM) di Kecamatan Mariso. Jalan ke PKM itu harus melewati lorong sempit. Dan ini untuk pertama kalinya, Senin (1/4/2019) itu, ada mobil mewah jenis Alphard bisa menembus lorong untuk mencapai Klinik Inggit Dahlia (Indah) yang terletak di Jl.Dahlia Lrg.132 Kecamatan Mariso Makassar.












