SKEMA: Obituari Joko Pinurbo (1962 – 2024)

Joko Pinurbo
Joko Pinurbo

Malam itu saya gunakan sebagai kesempatan untuk menggali proses kreatifnya dalam memproduksi puisi. Apa rahasianya? “Saya selalu membawa notes ke mana pun pergi, sehingga ketika ada ilham meski hanya 1-2 kata, saya catat supaya nggak lupa. Nanti saya kembangkan menjadi puisi utuh,” ungkapnya.

Ada beberapa topik lain menyangkut kebudayaan dan kesenian yang kami bicarakan, namun terlalu panjang jika dituliskan ulang untuk obituari singkat ini.

Namun yang paling menghunjam di benak saya adalah penjelasan Jokpin yang terdengar seperti penyesalan tak berkesudahan. “Dulu saya bersikap keras terhadap para penulis pemula. Karya mereka saya kritik tajam dengan maksud agar mereka menghasilkan karya yang lebih baik lagi sesudahnya. Tetapi yang terjadi, sebagian besar dari yang saya kritik itu malah tidak pernah menulis lagi,” katanya sembari kembali mengisap rokok dalam-dalam. “Saya lalu mengubah pendekatan dalam melakukan kritik agar para penulis muda tetap berkarya. Peningkatan kualitas bisa dilakukan bertahap tanpa harus memadamkan energi kreatif mereka.”

3/
Rabu, 26 Mei 2010, pada acara Sastra Reboan di Wapres Bulungan, Blok M, saya bertugas sebagai moderator untuk diskusi. Selain Jokpin yang datang dari Yogya, narsum lainnya adalah Aan Mansyur (penyair Makassar), Heru Emka (penyair Lampung), dan Kurnia Effendi (penyair-prosais Jakarta).

BACA JUGA:  Teori Energi Kata, Malam Penurunan Ilmu

Kiprah komunitas sastra dan kantong-kantong kebudayaan dalam dinamika modernisasi masyarakat dilihat Jokpin sebagai pemberontakan dalam sunyi. “Pemberontakan terhadap kecenderungan situasi yang membuat orang tidak merasa nyaman dan akrab terhadap sastra, sehingga mereka menganggap sastra terkesan eksklusif, berat, dan bahkan ‘menakutkan’,” katanya.[1]

Maka, dengan kredo seperti itulah Jokpin menyusun puisi-puisi yang tidak terkesan eksklusif, tidak berat, tidak menakutkan. Dia memiliki “urat humor” dalam memilin diksi baik dalam puisi maupun dalam interaksi sehari-hari. Sependek pengetahuan saya, Jokpin adalah yang pertama kali menggunakan ucapan ‘Selamat Menjalankan Ibadah Puisi’ di kalangan para penulis, ketika kaki-kaki waktu bergegas memasuki bulan Ramadan.

Menutup obituari singkat ini, saya pinjam puisi Jokpin berjudul “Perjamuan Khong Guan”.

_Tuhan, ponsel saya_
_rusak dibanting gempa_
_Nomor kontak saya hilang semua_
_Satu-satunya yang tersisa_
_Adalah nomorMu_

_Tuhan berkata:_
_Dan itulah satu-satunya Nomor yang tak pernah kau sapa_

Jokpin, Guruku, kawanku, mulai hari ini kau tak perlu lagi ‘Nomor’ itu karena kau akan bertemu langsung denganNya. Namun sajakmu akan terus mengingatkanku–juga para pembaca dan pengagummu lainnya–agar jangan pernah (lagi) menyia-nyiakan ‘satu-satunya Nomor yang tersisa’ dalam kehidupan manusia yang kian karut-marut dalam ingar-bingar yang mencerabut makna. Seperti di zaman ini.

BACA JUGA:  Bogor dan Dinamika Peraturan KPI tentang P3 dan SPS

Cibubur, 27 April 2024