Sekian Dekade Podium Masjid Mengajak

Saya berdiri. Dengan songkok yang terasa asing di kepala. Dengan koko yang membuat saya seperti orang lain. Dengan suara yang sempat ragu pada kalimat pertama.

Tapi anehnya, tidak ada yang benar-benar berubah. Yang saya sampaikan tetap tentang manusia, tentang waktu, tentang harapan, tentang bagaimana Ramadhan bukan sebatas menahan lapar, tetapi menata jiwa. Saya sadar, mimbar itu hanya tempat. Ruhnya tetap sama.

Ini bukan permulaan untuk kembali menjadi penceramah masjid. Bukan juga tanda saya akan rutin bersongkok setiap pekan. Itu hanya satu malam, satu kesempatan, satu kebetulan yang Tuhan atur dengan rapi.

Sebab sejatinya, saya tetap memilih menjadi diri saya yang ada di lorong, di jalan-jalan, di sudut kota, di pinggir kota. Di tempat-tempat yang mungkin tidak punya pengeras suara besar, tapi punya telinga-telinga kecil yang mendengar dengan hati.

Podium masjid memberi gema.
Podium jalanan memberi makna.

Dan saya belajar, bukan tentang di mana saya berdiri, tetapi untuk siapa saya berdiri.

BACA JUGA:  Gula Melejit, Rakyat Menjerit!

Panggung bukan soal tinggi rendahnya mimbar. Ia soal sejauh mana pesan sampai, dan seberapa dalam ia mengubah.

Kafe Baca, 3 Maret 2026