Saya Memulai Karier di Radio dengan Rp50

Radio
Saya Memulai Karier di Radio Dengan Rp50 by Rusdin Tompo (berdiri paling kiri)

Nah, setelah menyelesaikan kuliah, aktivitas sebagai padekor berlanjut. Bila lagi dapat orderan, kami sering kali nginap di rumah yang punya hajatan. Terkadang kami pulang di sela-sela aktivitas mendekor, hanya untuk mandi dan ganti baju. Hebatnya lagi, kalau nginap, kami tidur di kamar pengantin perempuan, yang sudah pasti berkasur empuk hehehe.

Ya, kamar istimewa yang akan digunakan sebagai “malam pertama” bagi pasangan pengantin, termasuk salah satu yang mesti kami kuasai sebelum hari yang sakral itu tiba. Pasalnya, kamar ini mesti didekor terlebih dahulu, dibuat indah, dan tentus saja romantis.

Dekor kamar pengantin ini berbahan kelambu yang dilipit dengan lipatan yang variatif, agar menghasilkan efek menarik. Lalu di atas kelambu warna putih itu diletakkan bunga-bunga anggrek atau mawar yang kami buat dari kertas krep, dengan aksen batang-batang daun cemara, sehingga terlihat kontras.

Saya menyebut kami karena selama mendekor, saya tidak sendiri. Kalau full team, kami turun berempat terdiri dari saya, Ruslan, Syahrul (Ba’du), dan Hamran. Ruslan ini kakak saya. Sedangkan Syahrul dan Hamran merupakan ponakan saya. Paling sering, hanya saya dan kakak yang mendekor.

BACA JUGA:  Suara Rakyat Hanya Dicari Saat Pemilu

Sebelum mendekor, biasanya kami datang melakukan survei untuk melihat apa saja yang akan didekor. Selanjutnya kami membuat daftar belanja, semacam RAB (rencana anggaran belanja) untuk membeli alat dan bahan-bahan yang diperlukan.

Kertas marmer, kertas krep, karton manila, lem, benang godam, gunting, dan cutter, merupakan barang-barang dan benda-benda yang menjadi bagian dari aktivitas kami sebagai padekor.

Kami pernah membuat pelaminan (lamming) dari bahan-bahan kertas berbentuk burung merak. Selain itu, kami mendekor kamar pengantin perempuan, membuat hiasan dinding serta slenger. Slenger ini dekorasi berbentuk rantai terbuat dari guntingan kertas yang disambung, biasanya digantung di plafon rumah atau di tenda pesta. Agar lebih indah, kami juga membuat lampion dan hiasan gantung, yang kesemuanya berbahan karton dan kertas.

Sesekali kami membuat hiasan janur, yang diletakkan di depan, di sisi kanan dan kiri pelaminan. Janur ini, selain pembuatannya butuh waktu lama, juga biayanya relatif mahal. Bayangkan, ada apel, jeruk, jambu, nenas, dan buah-buah lain dengan bentuk dan warna berbeda. Aneka buah yang ditancapkan menggunakan tusuk sate ini, sebagai pemanis dekorasi janur, yang menjadikannya mahal. Apabila ada orderan pembuatan janur, maka kami membawa buku panduannya di lokasi, biar lebih mudah ditiru.

BACA JUGA:  Mantan Dirut BRI Temu Kangen: (3) Dari Staf ke Posisi Puncak

Berdasarkan pengalaman kami, ada cara yang biasa kami lakukan bila membuat janur. Jika kami perkirakan bahwa pembuatan janurnya tidak bisa penuh lingkaran, mengelilingi batang pisang yang jadi penopangnya maka kami hanya membuat setenganhya atau dua pertiganya saja. Cuma tampak depan, yang dilihat orang. Ini semacam menyiasati waktu pengerjaan juga, bila sudah tiba acara, sementara pembuatan janur tidak keburu.

Orderan dekor pertama datang dari Daeng Timung, pegawai Kantor Gubernur KDH Tingkat I Sulawesi Selatan. Kami mendekor di rumah keluarganya di Katangka, tak jauh dari Masjid Tua Al-Hilal. Setelah itu, kami banyak mengerjakan dekorasi acara perkawinan di Sungguminasa, Kampung Jangka, Boka, dan Limbung. Di Limbung kami pernah mendekor pengantin anak seorang kepala desa. Boleh dikata, Gowa dan Makassar merupakan “wilayah kerja” kami. Namun, secara pribadi, saya pernah juga mendekor di Pinrang, acara kawinannya adik dari dosen saya.

Dengan pengalaman terbilang panjang, saat itu, saya merasa honor yang diterima sebagai padekor sudah tidak lagi memadai. Keputusan saya pun bulat, mendaftar sebagai penyiar radio di Venus AM. Bermodal Rp50 biaya fotokopi itu, alhamdulillah diterima. Meski posisi saya bukan sebagai penyiar, melainkan news writer atau lebih tepatnya sekadar rewriter, yang mengutip berita dari koran Pedoman Rakyat dan harian Kompas. (*)