banner 728x90

Rusdin Tompo : Kita ini Mau Dikenang Sebagai Siapa ?

  • Bagikan

NusantaraInsight, Gowa — Rusdin Tompo pernah menulis sejumlah tokoh, pejabat dan pejuang. Dia, antara lain, pernah menulis biografi Iwan Tompo, maestro lagu Makassar, dan buku Irjen Pol Pudji Hartanto Iskandar, mantan Kapolda Sulsel.

Dia juga menulis buku Keluarga Pagarra, yang mengisahkan bagaimana anak-anak dididik dalam kultur Makassar. Anak dari Pagarra, anggota Brimob yang pernah menjabat sebagai Camat Parangloe, antara lain Brigjen Pol Halim Pagarra, mantan Wakapolda Sulsel dan Prof Halifah Pagarra, guru besar UNM.

Buku lain yang ditulis adalah kisah Soekandar Hadiwidjaja, penerima Bintang Gerilya. Soekandar Hadiwidjaja, merupakan pejuang yang tergabung dalam divisi Siliwangi. Ia merupakan ayah dari Komjen Pol (Purn) Nanan Soekarna.

Dia mengingatkan, sejumlah poin yang perlu diperhatikan saat menulis biografi. Kejelasan dan ketepatan nama, penulisan gelar, istilah-istilah asing, tahun-tahun kejadian, serta data dan angka-angka. Selain itu, tempat dan lokasi yang jadi setting cerita, serta nilai-nilai kearifan lokal setempat perlu pula diperhatikan saat ditulis, biar pas kita memaknainya.

BACA JUGA:  KESOS dan KESLING warga DAENG JAKKING

Penulis biografi, jelas Rusdin Tompo, adalah seorang yang skeptif dan kritis pada informasi yang diberikan. Dia mesti punya banyak dan beragam bacaan, biar berwawasan dan informatif saat menulis. Dia mengaku, bacaan-bacaan, pengalamannya sebagai mantan jurnalis radio aktivis LSM sangat membantunya sebagai penulis.

“Manfaat sebagai penulis biografi, saya rasakan. Sebagai penulis, saya mendapatkan akses, privilese, tahu rahasia pribadi sampai rahasia negara,” ungkapnya.

Lagi-lagi diingatkan bahwa penulis biografi bukan investigator. Sekalipun ada banyak aspek penting mau diungkap, tapi semua mesti dilakukan atas konfirmasi dan terverifikasi. Ada aspek etika yang mesti dijunjung, dan itu mesi disampaikan pada tokoh yang ditulis atau keluarganya.

“Menulis biografi itu merupakan legasi bagi sosok atau tokoh yang ditulis, juga bagi penulisnya. Kita ini mau dikenal dan dikenang sebagai apa, sebagai siapa?” Imbuh Rusdin Tompo, mengakhiri presentasinya. (*)

  • Bagikan