Lewat berbagai inisiatifnya, ia mendirikan Komunitas Anak Pelangi (K-Apel), Kampus Lorong K-Apel, serta berbagai komunitas lain yang bertujuan sebagai wadah dalam menjembatani kepedulian terhadap sesama. Sebagai wadah bahwa bekerja untuk kebaikan adalah “budaya” berkorban adalah “naluri” dan keberanian adalah “fitrah”
Ia juga telah menerbitkan beberapa buku, antara lain:
“Perpustakaan Lorong Kelurahan Parang Tambung” (2020) “Green Tea dan Bunga” (Spiritualitas, Cinta, dan Kepedulian) (2020) “Maharku Pedang dan Kain Kafan” (Jilid 1, 2021) “Maharku Pedang dan Kain Kafan” (Jilid 2, 2022) Ikut menulis dalam buku “Jika Saya Menjadi Wali Kota Makassar” (2024) “Surat Cinta untuk Suami” ditulis bersama ibu-ibu K-Apel (2024)
Keberaniannya dalam bergerak di dunia sosial tak lepas dari berbagai tantangan. Tuduhan sebagai penculik anak, misionaris, bahkan pembawa ajaran sesat sering dialamatkan padanya. Namun, ia tetap teguh pada keyakinan bahwa setiap langkahnya didasarkan pada niat yang baik. Baginya, _”Berbuat baiklah, maka kebaikan itu akan menjagamu dan membuka jalan keluar untukmu.” ~ Rahman Rumaday._ Kepercayaan ini menjadikannya tak tergoyahkan dalam menjalankan misinya.
Sebagai lulusan jurusan Ilmu Pemerintahan pada Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik (FISIPOL) Universitas Pancasakti Makassar tahun 2019, ia bukanlah mahasiswa biasa. Ia bukan sekadar pencari gelar, bukan pula sekadar pengumpul angka di atas kertas. Perjalanan akademiknya begitu panjang, penuh liku, dan mungkin bagi sebagian orang dianggap melelahkan. Namun, bagi pria berkacamata itu, setiap persinggahan adalah pelajaran, setiap kampus yang pernah disinggahinya adalah bab dalam buku kehidupannya.
Ia memulai perjalanannya sebagai mahasiswa pada tahun 2005, namun baru menggenapkan langkahnya dalam balutan toga pada bulan Desember tahun 2019. Empat belas tahun waktu yang cukup bagi seseorang untuk meraih lebih dari sekadar ijazah. Dalam kurun waktu itu, ia berpindah dari satu kampus ke kampus lain (5 kampus), menjajal berbagai jurusan, mengecap ilmu di berbagai disiplin, hingga akhirnya menetapkan diri berlabu di jurusan Ilmu Pemerintahan, Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik, (Fisipol) Universitas Pancasakti Makassar.
Saat namanya akhirnya dipanggil dalam prosesi wisuda, seorang adik idiologis namanya Rezky Amalia Syafiin menulis tentang dirinya kemudian diterbitkan di media online dengan judul kisahnya berisi nada yang menyiratkan ironi sekaligus penghormatan : “Mahasiswa Penjelajah Kampus Akhirnya Wisuda Juga.” https://www.nusantarainsight.com/opinion-profile/rahman-rumaday-mahasiswa-penjelajah-kampus-akhirnya-wisuda-juga/
Bukan tanpa alasan. Ia telah melintasi begitu banyak jalan akademik, hingga orang-orang di sekitarnya nyaris tak percaya bahwa hari itu akhirnya tiba dia wisuda juga. Namun, bagi Rahman Rumaday, wisuda bukanlah puncak perjalanan hanya sebuah persinggahan yang kebetulan ia singgahi. Dan juga seorang wartawan senior (Asnawin Aminuddin) membuat tulisan dan menerbitkan di media miliknya (Pedoman Karya) dengan judul “Rahman Rumaday, Lahir di Maluku, Sekolah di Papua, Sarjana di Makassar” (Jumat, Desember 13, 2019) https://www.pedomankarya.co.id/2019/12/rahman-rumaday-lahir-di-maluku-sekolah.html?m=1
Lebih mengejutkan lagi, ia bukan hanya lulus, ia lulus dengan predikat mahasiswa terbaik, dengan angka kredit yang hampir sempurna. Namun, penghargaan itu tidak berarti banyak baginya. Ia tidak mencari angka, tidak mengejar pujian. Baginya, nilai hanya sekadar angka di atas kertas, dan ijazah hanyalah formalitas administratif pemenuhan sistem sebuah negara.












