Prof Karta Jayadi, KOPI HAJI, dan Perayaan Spiritualitas

Selain Nasran Mone, juga ada Moch Hasymi Ibrahim, Is Hakim, Yudhistira Sukatanya, Syamsul Bachri Sirajuddin (Daeng Ancu), Dr Arifin Manggau (Daeng Iping), Wakil Rektor 3 UNM, yang juga merupakan Ketua DKSS, serta Dr Andi Ihsan, Dekan Fakultas Seni dan Desain (FSD) UNM. Beliau mendapat ucapan selamat ulang tahun dari para sahabatnya itu.

Sesuai nama acaranya Musik dan Puisi “KOPI HAJI”, malam itu kami disuguhkan lagu-lagu beraneka genre, di antaranya lagu pop daerah Makassar, lagu nostalgia, juga lagu barat, yang dibawakan oleh Balla DKSS Band, Aksara Band, kelompok musik DE Art Studio, dan kelompok musik Ardi JK dan Uqbal.

Parade pembacaan puisi yang sarat pesan nilai, dibawakan secara apik oleh sejumlah penyair, yang membacakan karya-karyanya sendiri.

Mahrus Andis, Chaeruddin Hakim, M Amir Jaya, Moch Hasymi Ibrahim, Bahar Merdu, dan Yudhistira Sukatanya, masing-masing tampil dengan gayanya.

Puisi-puisi mereka mengandung perenungan seputar hakikat diri, hubungan dengan Tuhan Sang Maha Pencipta, bagaimana memaknai usia, dan juga mengingatkan kematian.

BACA JUGA:  Peluncuran Dua Buku Puisi Esai & Bedah Buku Irsyad Mohammad

“Seorang seniman itu mesti bisa merespons sesuatu secara spontan dan kreatif,” begitu kata Prof Karta Jayadi ketika berada di panggung.

Beliau mengaku mengoreksi catatan yang sudah dipersiapkan untuk menjawab puisi-puisi yang tadi dibacakan. Beliau bersyukur mendapat karunia, berupa naik haji melalui jalur undangan dari Pemerintah Kerajaan Arab Saudi.

Di Indonesia, ada 40 tokoh yang mendapat kehormatan menunaikan ibadah haji tahun 2025, atas undangan langsung dari Khadimul Haramain Asy-Syarifain, gelar resmi Raja Salman bin Abdulaziz Al Saud, melalui surat yang ditandatangani Duta Besar Arab Saudi untuk Indonesia, Faisal Abdullah H Amodi.

Di antara 40 tokoh itu, dari Sulawesi Selatan hanya 3 orang, yakni Gubernur Sulawesi Selatan, Andi Sudirman Sulaiman, Rektor Universitas Islam Negeri (UIN) Alauddin, Makassar, Prof Hamdan Juhannis, dan Rektor UNM, Prof Karta Jayadi. Rektor Institut Teknologi Surabaya (ITS), Prof Bambang Pramujati, juga ada dalam list undangan istimewa itu, dari dari kalangan akademisi.

Prof Karta Jayadi bercerita, ketika tengah melempar jumrah di Jamarat, Mina, beliau sempat memberikan batu-batu kecil yang dipunya kepada seseorang.

BACA JUGA:  Gen Z di Persimpangan Jalan.

Dalam perjalanan kembali, ada seseorang yang tidak dikenal memberikan payungnya, karena melihat beliau kepanasan.

“Selalu berbuat baiklah karena Allah SWT akan mencurahkan rahmat dan hidayah-Nya dalam keadaan yang tidak disangka-sangka,” imbuhnya.

Dalam istilah beliau “bakti unlimited”, berbuat baik selama ada kesempatan dan dalam bentuk apa saja. Tanpa mempertimbangkan take and give.

Unlimited bisa dimaknai sebagai sebuah metafora, konsep yang melampaui batas-batas potensi manusia. Bahwa ada sumber potensi kebajikan yang perlu diejawantahkan dalam berbagai wujud karya dan kemanusiaan.

Dengan memberi, tidak berarti seseorang menegaskan pengakuan atas eksistensi dirinya, tetapi menunjukkan bahwa dia bagian dari diri mereka. Apalagi jika itu didasarkan niat yang tulus karena Allah Ta’ala.

Konsep ini secara positif dapat menjadi motivasi bagi kita untuk berbuat baik tanpa batas, di mana saja, kapan saja, dan kepada siapa saja.

Juga berarti memiliki kepedulian, siri na pacce tanpa batas, dan berkontribusi dengan apa yang dapat kita berikan kepada masyarakat, bangsa, dan negara.

BACA JUGA:  MEMBACA ANTROPOLOGI KONTEMPORER PAGUYUBAN LAMAHU DARI MAKASSAR

Keteladanan itu sudah beliau tunjukkan dengan mendedikasikan hidupnya bagi kemajuan dunia pendidikan, kesenian, dan kebudayaan.

Sehingga momen Musik dan Puisi “KOPI HAJI” ini, bagi saya, merupakan perayaan spiritualitas yang bukan hanya berkesan bagi pribadi Prof Karta Jayadi ketika menjalani peristiwa naik haji.