Dosen FIB Unhas itu menandaskan bahwa di masanya, Galesong menjadi simpul penting jalur maritim Nusantara, sama dengan Tallo. Daerah ini bahkan punya figur ikonik ternama, yakni Karaeng Galesong.
Menurut Aminuddin Salle, Karaeng Galesong memiliki kepemimpinan Appaka Sulapak.
Simbol Appaka Sulapak, menurut beliau, diambil dari hasil anyaman bambu yang membentuk huruf SA (ᨔ), segi empat belah ketupat. Anyaman bambu berbentuk segi empat belah ketupat itu dalam aktivitas budaya disebut Lasugi (Makassar) atau Walasuji (Bugis).
Manusia, dalam bahasa Makassar disebut Tau. Dijelaskan bahwa perpaduan aksara Ta ᨈ dan Ma ᨆ, bila digabungkan maka akan membentuk huruf Sa. Huruf ini berarti sirik, yang merupakan harkat dan martabat manusia.
Supaya manusia punya harkat dan martabat, kata Aminuddin Salle, setidaknya memiliki 4 sifat utama, yakni carakdek/panrita (cerdas), lambusuk (jujur), barani (berani), dan kalumannyang (berwawasan luas).
“Ini merupakan sifat utama. Orang yang punya sifat-sifat itu disebut sebagai manusia seutuhnya atau insan kamil,” imbuh Ketua Dewan Adat Karaeng Galesong dan Ketua Dewan Pakar DPP Majelis Pemangku Adat Nusantara itu.
Karaeng Galesong dan Diaspora Patriotik
Prof Aminuddin Salle terinspirasi dari sosok I Maninrori I Kare Tojeng Karaeng Galesong, Laksamana Angkatan Laut Kerajaan Gowa yang dengan kepemimpinan Appaka Sulapak menjadi salah satu tokoh yang disegani.
Putra Sultan Hasanuddin, yang lahir di Bontolebang, 29 Maret 1655 itu tegas menolak Perjanjian Bongaya antara Kerajaan Gowa dengan VOC (Vereenigde Oostindische Compagnie) Belanda beserta sekutunya, pada tahun 1669.
Karaeng Galesong meneruskan perjuangannya hingga ke tanah Jawa. Ini terdokumentasi dalam Babad Tanah Jawi. Persebaran pasukannya meliputi area Tuban, Surabaya, Gresik, Pasuruan, Pajarakan, Gombong, hingga Kediri.
Di wilayah ini, Karaeng Galesong bersama Trunojoyo dan Untung Suropati gigih berperang melawan Raja Amangkurat dari Kerajaan Mataram yang berkomplot dengan kompeni VOC.
“Makam Karaeng Galesong ada di Kecamatan Ngantang, Kabupaten Malang, Jawa Timur. Beliau wafat tahun 1679. Orang di sana memanggilnya mbah Rojo, sebagai bentuk rasa hormat mereka,” jelas Prof Aminuddin Salle.
Amrullah Amir menyebut semangat yang diusung Karaeng Galesong dan orang-orang Makassar, seperti Daeng Mangalle di Ayutthaya, Siam, sebagai diaspora patriotik.
Dalam seminar yang diadakan oleh Pelakita.ID dengan motornya Kamaruddin Azis, kita disodorkan pada kisah-kisah historis masa kejayaan Galesong lengkap dengan jiwa heroismenya.












