Poster Film Bioskop dan Promosi Pertunjukan Teater

Di daerah-daerah tertentu, cerita Iwan Azis, malah bukan menggunakan mobil tetapi masih menggunakan bendi atau dokar. Poster-poster film dengan ukuran yang agak kecil dipasang pada bagian sisi kiri dan kanan mobil atau bendi.

“Pelukisnya memang diminta membuat poster ukuran raksasa dan yang agak kecil. Jadi, bisa dibayangkan, perjuangan mempopulerkan sebuah film itu luar biasa,” tambah Iwan Azis.

Salah seorang pelukis poster film di Makassar yang terkenal, di masanya, namanya Jhon. Dia mengerjakan poster-poster itu di Jalan Paceknekang, kalau tidak salah. Jalan ini berada dekat Pasar Sentral. Di situ juga rumahnya. Sebagai pelukis poster, dia butuh matahari biar hasil lukisannya itu cepat kering. Jadi dia tidak pakai tenda untuk berlindung.

Sebagai pelukis poster film, kata Iwan Azis, harus diakui tidaklah mudah. Beliau melihat pengerjaannya. Pelukisnya menggunakan cat tembok tapi tidak diberi air. Kalaupun dicampur, airnya sangat sedikit. Sehingga catnya tetap kental, dan saat melukis tekstur lukisannya menonjol. Dengan teknik ini, beliau nilai pelukisnya lincah sekali memainkan warna-warna pada lukisan posternya yang dikerjakan di atas kain belacu. Penggunaan cat yang tebal ini memang dibutuhkan, supaya lukisan poster itu bisa tahan berhari-hari bahkan berpekan-pekan.

BACA JUGA:  Salsabila: Saya Seorang Pembelajar yang Dinamis

Pelukis poster film lainnya, yang terkenal, adalah Kadir Ansari. Kadir Ansari ini merupakan seorang otodidak. Semasa hidupnya, aktif di Dewan Kesenian Makassar (DKM). Dia seorang sutradara teater dan penata artistik pertunjukan teater. Pertunjukan teater yang pernah disutradarai  Kadir Ansari, antara lain “Aku Perempuan” (2016) dan “Ca Bau Kan” dari novel karya Remy Silado (2017). Kadir Ansari ini, dahulu aktif di Teater Kita Makassar

Ketika pertunjukan teater “Perahu Nuh 2” (1985), di Makassar, Kadir Ansari membangun setting perahu dengan menggunakan batang-batang bambu. Iwan Azis mengakui seniman multitalenta ini memang hebat.

Dia bukan saja sebagai penata pertunjukkan di Makassar, bahkan ketika seniman-seniman Makassar menggekar pertunjukan di Taman Ismail Marzuki (TIM) Jakarta, dia juga yang tangani.
Kadir Ansari ini biasa mengerjakan poster filmnya di DKM, yang saat itu masih di Gedung Societeit de Harmonie.

Kadir Ansari melukis poster film tidak menggunakan kuas tapi spoit dico. Dia menggunakan kompresor yang anginnya disetel agar tidak terlalu kencang. Iwan Azis menyebut karya rekannya itu sebagai reklame film. Ditambahkan bahwa membuat reklame film memang merupakan kepintaran dan keahlian Kadir Ansari sebagai pelukis poster film yang hebat. Dia membuat letternya dengan huruf-huruf terpisah, lalu disambung, sesuai kebutuhan. Misalnya, tulisan LAKEKOMAE.

BACA JUGA:  Daeng So'na, Jejak Panjang Perempuan Aktivis

“Boleh dicek, sayalah yang mengawali pembuatan poster dalam ukuran besar untuk pertunjukan teater di Makassar,” kata Iwan Azis melanjutkan ceritanya.

Saat itu, jelas Iwan Azis, inspirasinya dari poster film. Jadi beliau mengadopsi model promosi film yang memampangkan poster ukuran besar, pada pertunjukan teater. Beliau mengklaim sebagai orang pertama di Makassar yang bikin poster besar saat pertunjukan teater di Gedung Societeit de Harmonie, Jalan Riburane.

“Boleh tanya, Goenawan Monoharto. Saya gunakan foto style untuk pengerjaan poster ini,” lanjutnya.

Kebetulan, katanya, beliau dipercayakan oleh Aspar Paturusi, sebagai penulis cerita, untuk menjadi produser pertunjukan teater “Perahu Nuh 2”. Mungkin karena posternya punya daya tarik, sehingga penonton pertunjukan ini membeludak. Belum lagi ceritanya memang bagus. Hanya saja, saat bersamaan, ada kegiatan di Jakarta, yakni Kongres PARFI, sehingga beliau tidak bisa mengikuti kegiatan pertunjukannya secara penuh.