PROF. MUHAMAD ALI, PH.D (MENJANGKAU DUNIA DARI MATARAM): Visi Global, Aksi Lokal, dan Kepemimpinan Akademik yang Transformatif

Muhamad ali
Imaji Air Api. Willgo Zainar, SE., MBA, penulis, dan Prof. Muhamad Ali, PH,D. (ki-ka)

“Tahun 2022, Indikator Kinerja Utama (IKU) Unram berada di peringkat 27 nasional untuk kategori PTN BLU. Setahun kemudian, kita naik ke posisi 5, dan tahun 2024 menempati peringkat 3 nasional,” jelasnya.

Capaian tersebut berdampak langsung terhadap peningkatan anggaran kinerja (BOPTN) dari Rp17 miliar menjadi Rp57 miliar serta tambahan bonus IKU Rp7 miliar dari Kementerian Pendidikan.
Kinerjanya yang menonjol membuat pemerintah mempercayakan Unram sebagai model pengelolaan kinerja perguruan tinggi di kawasan timur Indonesia.

“Keberhasilan itu bukan hasil individu, tapi hasil kerja kolektif yang saya fasilitasi. Saya percaya kepemimpinan akademik adalah kepemimpinan kolaboratif,” tegasnya.

Strategi Transformasi: Dari Kampus Hijau ke Kampus Global

Dalam visi strategisnya, Prof. Ali melihat tantangan Unram bukan hanya di aspek akademik, tetapi juga relevansi dan dampak sosial. Perguruan tinggi, katanya, harus melampaui tugas tridharma.
“Tugas kita bukan sekadar mengajar, meneliti, dan mengabdi, tetapi memberi dampak konkret bagi masyarakat, pemerintah, dan industri,” ujarnya.

Visi Unram yang unggul dan berdaya saing global disinergikan dengan visi Pemerintah Provinsi NTB: “NTB Makmur Mendunia.”

BACA JUGA:  Pertumbuhan Ekonomi Di Tengah Ketidakpastian

“Riset prioritas Unram harus mendukung program pengentasan kemiskinan, ketahanan pangan, dan pariwisata. Dampak penelitian bukan hanya publikasi global, tetapi manfaat bagi masyarakat,” tegasnya.

Untuk menjawab tantangan akses pendidikan di wilayah kepulauan, Prof. Ali menginisiasi gagasan kampus satelit dan transformasi digital.

“Unram berada di provinsi kepulauan dengan lebih dari 400 pulau kecil. Kami ingin bangun kampus satelit di Lombok Utara dan Sumbawa, agar mahasiswa bisa belajar dan praktik langsung di wilayahnya,” jelasnya.

Ia juga mengembangkan konsep blended learning berbasis university farm, memadukan teori dan praktik lapangan. “UNESCO menekankan pembelajaran bukan hanya how to know tetapi how to do, dan itu yang kita wujudkan,” ujarnya.

Dalam rancangan strateginya, Prof. Ali menekankan pentingnya membuka fakultas dan program studi baru yang relevan dengan potensi daerah.

“NTB punya tambang, sektor kelautan, dan pariwisata yang kuat. Maka kita perlu fakultas kelautan, program studi manajemen sumber daya air, dan desain bangunan air untuk mitigasi bencana dan mendukung pariwisata,” urainya.

BACA JUGA:  Lumbung Literasi: Ruang Belajar Alternatif

Unram juga akan mengembangkan Science Techno Park (STP) di kampus pusat, sebagai pusat inovasi dan kolaborasi riset industri. Di area ini akan dibangun Unram Square yang menampilkan produk inovasi unggulan seperti lamtoro beef, lebah madu, mutiara, lobster, udang, rumput laut, hingga alat deteksi cepat penyakit.