Pembahasan tentang metode berpikir pun kembali hadir. Bahwa “Al-Qur’an banyak menggunakan pendekatan deduktif-yang diarahkan, yang kuat.” ~ Kata Prof. Mardi
“Deduktif lebih kuat dari induktif.”
Saya bergumam,
“Mungkin selama ini saya terlalu banyak mengumpulkan serpihan… tapi belum punya arah.”
Lalu Prof. Mardi menyampaikan sesuatu yang sederhana namun dalam-tentang simbol “=” dalam matematika.
Bahwa dalam ilmu matematika “setara” itu sebenarnya tidak pernah benar-benar bertemu.
Saya tersenyum tipis,
“Seperti manusia… yang selalu mendekati kebenaran, tapi tidak pernah menjadi kebenaran itu sendiri.”
Prof. Mardi juga menyebut bagaimana orientalis membagi Al-Qur’an menjadi tiga yakni sejarah, hukum, dan transenden.
Saya bertanya dalam hati,
“Apakah cara membagi itu sudah benar?”
Prof. Mardi menegaskan bahwa pembagian harus berdasarkan kesamaan yang hakiki. Jika tidak, maka ia akan keliru.
Dalam logika, katanya, pembagian itu sulit karena selalu ada “bentuk antara”.
Saya terdiam.
“Jangan-jangan… selama ini saya terlalu cepat menyimpulkan… tanpa memahami ruang di antara.”
Dan satu kalimat terakhir itu masih menggema kuat yakni
“Kalau bertanya tentang proses… mulailah dengan ‘bagaimana?'”
Saya mengulangnya,
“Bagaimana…”
Bagaimana saya belajar.
VBagaimana saya berpikir.
Bagaimana saya hidup.
Saya menarik napas panjang.
Lalu kembali pada satu pertanyaan awal,
“Saya…sebenarnya pulang membawa apa?”
Dan kali ini, saya menemukan jawabannya.
Saya tidak hanya membawa ilmu.
Saya membawa cara berpikir.
Saya membawa cara memandang.
Saya membawa cara menjadi manusia.
Saya menutup percakapan batin itu dengan pelan,
“Belajar itu ternyata bukan soal seberapa banyak yang saya tahu…tapi seberapa dalam saya berubah.”
Dan mungkin…
hari itu bukan hanya tentang saya bertemu seorang guru besar.
Tapi tentang…
saya dipertemukan dengan cara baru untuk menemukan kebenaran.
Parang Tambung, 29/3/2026












