By : Rahman Rumaday
(Founder K-apel dan Kampus Lorong K-apel
NusantaraInsight, Makassar — Belajar tidak selalu harus di ruang kelas yang ramai. Tidak harus ber-AC, tidak harus megah, tidak harus penuh fasilitas. Kadang, belajar justru lahir dari ruang yang sunyi-ruang hati yang lapang, yang ikhlas, yang sabar.
Sebagaimana kata imam Al-Gazali Syarat menuntut ilmu yaitu :
Pembersihan Jiwa :
“Ilmu itu ibarat shalatnya hati, ibadahnya batin. Maka tidak sah shalat kecuali dengan kesucian lahiriah, begitu pula tidak sah ilmu kecuali dengan kesucian hati.”
Adab dan Rendah Hati :
“Syarat utama mendapatkan ilmu adalah membebaskan hati dari kesibukan duniawi dan bersikap rendah hati (tawadhu) kepada guru.”
Setengah hari penuh, pada tanggal 28 Maret 2026, saya diberi kesempatan oleh Allah untuk bertemu dengan seorang guru yang luar biasa. Ia meluangkan waktunya duduk bersama saya, tanpa terlihat tergesa-gesa, tanpa bayangan agenda lain yang menunggu-sebagaimana umumnya seorang guru besar yang bergelar profesor.
Pertemuan itu berawal dari sebuah janji sederhana. Kami sepakat bertemu di apartemennya di kawasan Boulevard, Sabtu pukul 10 pagi. Dan tepat pada waktu yang telah ditentukan, saya pun tiba di sana. Saya menunggu di lobi, mencoba menata perasaan – antara harap, hormat, dan sedikit gugup.
Tak lama kemudian, beliau sendiri turun menjemput saya.
Seketika saya terdiam dalam hati,
“Seorang profesor… turun sendiri menjemput saya?”
Kami pun naik ke lantai 25. Setibanya di dalam, beliau langsung mempersilakan saya duduk.
“Duduk dulu, saya buatkan kopi,” katanya dengan tenang.
Saya refleks menjawab,
“Jangan mi Prof, biar saya saja yang buat.”
Namun beliau tersenyum ringan,
“Tidak apa-apa, duduk saja nanti saya buatkan.”
Lalu ia berjalan ke dapur kecil yang menyatu dengan ruang tamu sebagaimana konsep apartemen pada umum. Mengambil panci, menuangkan air dari dispenser, menyalakan kompor. Sementara itu, roti dipanaskan di toaster. Semua dilakukan dengan begitu sederhana… begitu biasa… namun terasa luar biasa.
Saya hanya bisa duduk dan memperhatikan.
Masya Allah… di hadapan saya, seorang guru besar namanya -Prof. Dr. Mardi Adi Armin, M.Hum- guru besar Filsafat Bahasa Universitas Hasanuddin Makassar menunjukkan ketawadhuan yang tidak dibuat-buat. Tidak ada sekat. Tidak ada jarak. Hanya ketulusan yang mengalir.
Kekaguman itu tumbuh… bukan karena ilmunya semata, tapi karena sikapnya.
Setelah semua terhidang, suasana yang semula sunyi perlahan mencair.
Prof. Mardi membuka percakapan,
“Saya baru tiba tadi subuh dari Surabaya… langsung dari bandara ke sini. Khawatir kalau pulang ke rumah nanti terlambat, karena sudah janji sama Maman jam 10.”












