Nona Ambon, Makassar, dan Lagu Anging Mammiri

Bukan cuma penyanyi, tetapi juga kelompok musiknya juga ternyata orang Ambon, bila dilihat dari marganya, Mariana Latuheru. Walaupun nama grupnya orkes Maredja-Redja, berbahasa Makassar.

Kolektor sekaligus kurator Pameran Skena Musik, Ansar Mulkin Bas, lantas memperdengarkan lagu “Anging Mammiri” pada piringan hitam itu yang diputar melalui gramofonnya. Pemilik Celebes Vintage ini mengungkapkan, kualitas suaranya tidak terlalu baik lantaran usia alat pemutarnya sudah agak aus.

Meski begitu kita menjadi tahu peran dan kontribusi penyanyi dan musisi asal Ambon dan Maluku dalam kemajuan lagu-lagu daerah Makassar. Sehingga pameran ini menjadi penting guna merawat warisan ingatan warga lewat benda, teks, bunyi, foto, dan video terkait musik, termasuk grup musik dan peralatan musik di masanya.

Orang-orang Ambon punya sejarah panjang di Makassar. Di kota ini, mereka punya perkampungan sendiri yang dikenal dengan nama Ambon Kamp. Ambon Kamp ini bukan cuma satu, tetapi berada di tiga lokasi berbeda.

Pertama, di Maricaya, Jalan Gunung Nona, belakang Latanete Plaza. Kedua, di Mattoanging, di Jalan Bangau, dekat kolam renang Mattoanging. Ketiga, di kampung Mariso. Walau punya perkampungan sendiri tetapi mereka berbaur dengan masyarakat setempat.

BACA JUGA:  Rusdin Tompo "Ana Makassar Basar di Ambon" Bukan Carita Batu Badaong di Museum Kota

Sejumlah tokoh, olahragawan, dan seniman lahir dari sini, sebut saja pesepak bola Nus Pattinasarani, yang bermain di PSM Makassar era Ramang. Juga nama Ronny dan Donny Pattinasarani yang pernah membela kesebelasan Juku Eja. Penyanyi Andre Hehanusa juga tercatat lahir dan besar di Makassar, serta perupa Dicky Tjandra.

Lorong Waktu Lagu-Lagu Nusantara

Lokananta merupakan nama yang pasti ditemukan begitu kita menelusuri jejak sejarah industri musik di Indonesia. Bagaimana tidak. Lokananta adalah studio rekaman atau studio musik pertama di Tanah Air (kemenpar.go.id).

“Lokananta” dalam bahasa Sansekerta artinya gamelan dari kayangan yang bersuara merdu. Awalnya, studio yang berdiri tahun 1955 di Surakarta (Solo) ini, hanya digunakan untuk merekam dan memproduksi piringan hitam guna keperluan siaran internal RRI yang tersebar di 26 stasiun se-Indonesia.

Memasuki tahun 1958, Lokananta mulai memproduksi lagu-lagu daerah dari seluruh Indonesia. Misalnya, lagu Melayu Banjar, “Ampar-Ampar Pisang”, lagu Minang, “Sansaro Badan”, lagu Batak, “Butet”, dan lagu Melayu, “Seringgit Dua Kupang”, semuanya direkam di situ.

BACA JUGA:  Kapan Amerika Menghukum Israel?

Dari khazanah lagu Maluku, ada lagu “Mande-Mande” dan “Sarinande” yang dinyanyikan Bob Tutupoly. Rekaman dengan iringan orkes Didy Pattirane itu dibuat tahun 1959. Sedangkan lagu “Anging Mammiri” yang dibawakan Meity Joseph, dengan iringan orkes Maredja-Redja diperkirakan juga direkam pada tahun yang sama.