Oleh Aslam Katutu
NusantaraInsight, Makassar — “Gaza tak boleh lagi menjadi catatan kaki. Gaza adalah halaman utama. Gaza adalah luka yang berdarah dan belum dibalut”
Ketika langit Timur Tengah mulai dihiasi dentuman rudal dan ledakan balasan antara Iran dan Israel, perhatian dunia seakan tersedot ke dua negara yang mengklaim kekuatan. Tajuk berita berubah, narasi media bergeser. Sorotan publik tak lagi menyorot reruntuhan di Gaza, tapi berpindah ke ancaman perang skala regional, ke nuklir, ke rudal hipersonik, dan ke poros kekuatan dunia.
Namun kini, setelah Iran dan Israel dinyatakan oleh AS gencatan senjata, saatnya dunia kembali membuka mata dan menoleh ke arah yang seharusnya: Gaza.
Gaza bukan hanya wilayah kecil di peta, bukan hanya jalur sempit yang dikepung laut dan pagar. Gaza adalah rumah bagi dua juta jiwa manusia—anak-anak, ibu-ibu, lansia, dan laki-laki yang kehilangan segalanya, bahkan harapan. Selama lebih dari tujuh bulan terakhir, Gaza dibombardir tanpa jeda. Sekolah dijadikan tempat pengungsian, rumah sakit jadi sasaran rudal, dan suara tangis menggantikan nyanyian pagi dan berlangsung setiap hari.
Namun dunia diam. Ketika perhatian global dialihkan ke ketegangan Iran–Israel, penderitaan Gaza tetap berlanjut, hanya saja semakin senyap, dan seakan mulai dilupakan.
Kini, ketika gencatan senjata mulai menenangkan langit Iran dan Israel, dunia punya kesempatan emas untuk mengembalikan nuraninya. Mengembalikan perhatiannya kepada Gaza.
Gencatan senjata antara dua kekuatan besar seharusnya menjadi titik balik, bukan titik akhir. Dunia harus memahami bahwa konflik sesungguhnya bukan hanya tentang Iran dan Israel, tetapi tentang rakyat yang tertindas, tentang anak-anak yang tumbuh di bawah bayang-bayang drone, dan tentang warga Gaza yang dibomberdir ketika antri menerima bantuan.
Sudah saatnya kita semua kembali bertanya: bagaimana kondisi Gaza hari ini? Masihkah zionis membabi buta membunuh warga Gaza? Apakah bantuan sudah masuk? Apakah anak-anak masih bisa makan? Apakah listrik kembali menyala? Apakah jenazah masih tertimbun reruntuhan karena alat berat tak diizinkan masuk?
Jawabannya sungguh memilukan: belum. Blokade masih berjalan, bantuan masih tertahan, dan suara dunia belum cukup nyaring untuk mendobrak kebungkaman Israel.
Gaza adalah ujian moral dunia. Jika komunitas internasional hanya bersuara ketika bom Iran meledak di Tel Aviv, tapi diam ketika rumah sakit di Gaza dibakar dari udara, maka kita telah kehilangan arah. Kita tidak sedang membela Palestina, kita tidak sedang membela kemanusiaan yang diinjak-injak.
Sejak awal 2024, lebih dari 50.000 warga Gaza gugur. Sebagian besar adalah perempuan dan anak-anak.