Graduasi ini memiliki empat pilar pendekatan yang saling melengkapi:
Perlindungan Sosial, untuk memastikan kebutuhan dasar rumah tangga terpenuhi.
Pengembangan Mata Pencaharian, melalui kegiatan produktif dan peningkatan pendapatan.
Pemberdayaan Sosial, untuk mendorong perubahan perilaku dan inklusi sosial.
Inklusi Keuangan, guna memperkuat kemampuan pengelolaan keuangan dan tabungan rumah tangga.
Empat pilar tersebut dirangkum ke dalam tiga elemen utama: A–B–C (Asset, Basic Need, Coaching).
Asset adalah transfer aset produktif yang bisa digunakan rumah tangga miskin sebagai modal usaha.
Basic Need merujuk pada pemenuhan kebutuhan dasar agar rumah tangga memiliki stabilitas hidup.
Coaching berarti pendampingan intensif agar mereka dapat mengelola perubahan dengan bimbingan berkelanjutan.
Menurut Giri Arnawa, setiap pendamping akan menangani 50 rumah tangga miskin ekstrem (1:50) secara intensif. Rasio ini menunjukkan bahwa kualitas pendampingan sangat menentukan keberhasilan program. Karena itu, pemerintah menekankan pentingnya pendamping yang berintegritas, kompeten, dan memiliki kepedulian sosial tinggi.
Proses rekrutmen tahap awal pun dilakukan dengan cermat. Dari 961 pelamar, sebanyak 615 lolos administrasi dan mengikuti wawancara serentak di berbagai kabupaten/kota NTB, difasilitasi oleh 15 tim seleksi dari unsur DPMPD, Bappeda, Dinsos, dan Tenaga Ahli Gubernur (TAG). Dari proses tersebut, 144 pendamping akan terpilih dan ditempatkan di 40 desa miskin ekstrem untuk fase awal.
Pendekatan berbasis data dan kualitas SDM pendamping menjadi fondasi utama agar program tidak hanya simbolik, tetapi efektif dalam mengubah struktur sosial-ekonomi desa.
Pilar kedua, Desa Berdaya Tematik, memperluas cakupan dengan menjangkau 336 desa miskin absolut dan 724 desa/kelurahan lainnya di NTB. Fokusnya tidak lagi sekadar pada pengentasan kemiskinan ekstrem, tetapi pada pengembangan potensi lokal dan penciptaan nilai tambah ekonomi.
Desa Berdaya Tematik memiliki 20 agenda kerja prioritas, dengan dua arah pengembangan utama:
15 agenda penguatan kapasitas desa, seperti pendidikan, kesehatan, tata kelola, digitalisasi desa, dan inovasi sosial.
5 agenda keunggulan kompetitif, yang berfokus pada potensi khas tiap desa, seperti pertanian organik, wisata desa, kerajinan lokal, energi terbarukan, dan industri kreatif.
Tujuannya jelas: memperkuat kemandirian berbasis potensi lokal dan menciptakan desa yang mampu berdiri di atas kekuatan sendiri. Dengan demikian, transformasi sosial-ekonomi tidak bergantung pada intervensi pemerintah semata, melainkan tumbuh dari kesadaran dan kapasitas masyarakat desa.












