Cara Pandang Cukup Wibowo sebagai Widyaiswara dalam Menghadapi Generasi Z

3. Tantangan Filosofis Generasi X di Hadapan Generasi Z

Cukup Wibowo, sebagai bagian dari generasi X, membawa bekal yang khas: disiplin, kesabaran, dan penghargaan pada proses panjang. Generasi ini tumbuh di era transisi dari analog ke digital, terbiasa menghargai hierarki, dan percaya bahwa hasil baik lahir dari ketekunan.

Namun kini, ia berhadapan dengan generasi yang berpikir instan, visual, dan kritis terhadap otoritas. Di sinilah tantangan filosofis muncul: bagaimana menjaga wibawa tanpa menjadi otoriter, bagaimana menghadirkan kedalaman nilai tanpa kehilangan relevansi. Filosofi pendidik sejati adalah flexibility in method, firmness in value—fleksibel dalam cara, namun teguh dalam prinsip.

Cukup Wibowo memahami bahwa otoritas di mata Gen Z tidak lagi lahir dari jabatan, tetapi dari kompetensi nyata. Maka seorang widyaiswara harus siap menguasai teknologi pembelajaran, learning management system, hingga aplikasi digital, sambil tetap membawa cerita-cerita pengalaman yang tidak akan ditemukan di Google. Inilah jalan tengah: memadukan kearifan masa lalu dengan kebutuhan masa kini.

4. Pendidikan ASN sebagai Proyek Moral

BACA JUGA:  Santri Virtual: Generasi Baru Penuntut Ilmu di Era Digital

Jika AI mampu membantu Gen Z menulis resume atau menjawab wawancara, maka Latsar memiliki tugas yang jauh lebih mendalam: menanamkan jati diri ASN. Filsafatnya, birokrasi adalah proyek moral, bukan sekadar teknis. Etika pelayanan publik, loyalitas pada NKRI, serta keberanian mengambil keputusan yang berpihak pada masyarakat tidak bisa dipelajari dari mesin, melainkan dari manusia yang menjadi teladan.

Oleh karena itu, tugas utama widyaiswara adalah membentuk character building ASN muda, agar teknologi tidak mengikis nilai, tetapi justru memperkuatnya. Inilah yang disebut Cukup Wibowo sebagai “ruang dialektika sehat” antara digitalisasi dan nilai dasar ASN.

5. Menuju Birokrasi Emas 2045

Menghadapi generasi Z berarti menghadapi masa depan birokrasi. Mereka akan menjadi tulang punggung Indonesia menjelang 2045. Bila tidak dipandu, kecepatan digital mereka bisa jatuh pada superfisialitas dan kehilangan makna etis. Tetapi bila diarahkan dengan bijak, energi mereka bisa menjadi bahan bakar utama birokrasi emas: birokrasi yang tangguh, adaptif, dan berdaya saing global.

Dalam kerangka ini, peran widyaiswara bukan sekadar instruktur, melainkan penjaga nilai dan penyambung generasi. Dengan kreativitas, keberanian beradaptasi, dan keterbukaan lintas usia, widyaiswara menghadirkan ekosistem pembelajaran inklusif, tempat perbedaan generasi bukan hambatan, melainkan modal sosial.