Bedah Buku: Heterarki Masyarakat Muslim Indonesia

Heterarki
ki-ka: Prof. Dr. Atun Wardatun, Prof. Dr. Abdul Wahid, Prof. Dr. Nuriadi dan Dr. Saipul Hamdi

“Dengan menancapkan kesadaran heterarki ke dalam diri kita, yang diartikan tidak ada kekuasaan yang terlalu, wa tilkal-ayyamunudaawiluhaa bainan-naas: itu hiterarki, kekuasaan itu akan dipergilirikan diantara manusia, diantara kalian,” ujar Guru Besar Universitas Islam Negeri Mataram, sebagaimana juga tertulis di halaman 272 sebagai Bahasa Al-Qur’an.

Teori itu adalah leading the change. Memberi arahan dalam melihat realita kemudian ada kesadaran lalu dengan teori itu change the lead. Perubahan itu di arahkan dengan teori-teori. Banyak sekali kejadian-kejadian perubahan sosial yang terjadi di belahan dunia diarahkan oleh teori. Kapitalisme, diarahkan teori. Tumbuhnya negara-negara sosialisme diarahkan teori. Itu pentingnya kesadaran teori.

Perkembangan masyarakat muslim, masyarakat secara keseluruhan sangat luar biasa, berupa perubahan pola pikir, perubahan moda komunikasi, perubahan struktural, perubahan material dan dulu di masyarakat ruang-ruang pengetahuan sangat terbatas, seperti mesjid, sekolah, pondok pesantren.

Adakah wilayah pengetahuan lain? Ada, itu yang kami tunjukkan dalam penelitian peer group based intelectualism adanya misalnya di kost anak-anak, tidak di mesjid, tidak di madrasah, tidak di universitas. Mereka ada dan tumbuh, sehingga terbuka celah atau lorong bagi kita untuk menggerakkan perubahan sosial.

BACA JUGA:  Pertumbuhan Ekonomi Tahun 2024

Kata kunci dalam buku ini adalah perubahan sosial. Kita punya tugas besar untuk melakukan perubahan sosial. Ada kata-kata menarik dari puisinya Emha Ainun Majid: Kita sibuk menghitung jumlah umat kita yang berjuta-juta tetapi pas pemilu lho kok kalah lagi. Jadi perubahan sosial itu harus dilahirkan mulai cara pandang heterarki dan diisi oleh aspek-aspek lain yang disebut Prof. Atun sebagai agensi kolektif.

Heterarki itu adalah penggambaran kegeliatan di masyarakat. Ini sangat berbahaya, kalau ada penguasa yang zholim, penguasa yang tidak mau berubah, maka buku ini adalah alarm.

Bagi kita yang terpinggirkan itu jangan menjadi orang sydrom post colonial, selalu menunduk, karena ingat kita punya modal untuk berkuasa juga, asal jika telah berkuasa tidak mendaur ulang penindasan.

“Kita punya kesempatan besar untuk melakukan perubahan sosial. Mobilitas sosial terjadi, distribusi kekuasaan terjadi, pembagian pemerataan sosial juga terjadi. Giliran, masalah waktu saja. Jadi sebetulnya buku ini mencoba memberontak terhadap kecenderungan-kecenderungan berpikir seperti itu tadi,” pungkas Prof. AW1

BACA JUGA:  Saat Menikmati Green Tea dan Bunga, Syahril Patakaki Sodorkan Butta Passolongang Ceratta

#Akuair-Ampenan, 03-07-2025