PERLUNYA MENATA KEMBALI LORONG WISATA

Meski program Longwis itu mendapat apresiasi dan mencatatkan prestasi bagi Pemkot Makassar, tapi ada beberapa catatan kritis, yang perlu jadi bahan evaluasi. Catatan kritis ini juga menjadi masukan untuk penataan dan pengembangan Longwis ke depan. Harus diakui Longwis merupakan potensi bagi Pemkot dalam menggerakkan sektor pariwisata dengan segala dampak ikutannya kepada masyarakat.

Pertama, ada Lorong Wisata yang hanya sekadar dipasangi spanduk dari bahan vynil (digital printing) yang tidak ramah lingkungan. Mengapa tidak dibuat dengan tulisan tangan yang indah, hasil kreasi warga atau perupa di kelurahan itu. Bukankah mereka membuat mural di sepanjang tembok lorong atau dinding rumah warga? Sehingga, dengan tulisan tangan akan jauh lebih menyatu serta tentu lebih kreatif dan menarik.

Kedua, semangat Pemkot Makassar yang mau mengedepankan istilah lokal tercederai dengan penamaan lorong yang menggunakan nama-nama kota dari berbegai negara. Istilah “sombere”, “tangkasaki”, “rantasa”, “jagai anakta”, yang dipakai mestinya juga menjadi pola dalam penamaan lorong-lorong yang notabene berada di Makassar. Sayangnya, yang terjadi justru penamaan lorong menggunakan nama-nama kota di berbagai negara, seperti Lorong Wisata Sydney dll.

BACA JUGA:  Kalender yang Telanjur

Dengan penamaan yang sekadar meminjam dan asal comot nama-nama kota internasional, membuktikan bahwa Pemkot Makassar secara instan mau cepat menyebut dirinya sebagai kota dunia. Namun, kota dunia yang tidak punya jati diri. Bahkan secara tanpa hak menggunakan nama-nama kota itu untuk dilekatkan secara paksa pada lorong yang tidak punya spirit sebagai lorong wisata. Menggunakan nama-nama kota berbau asing juga merusak toponimi dan kekhasan daerah tersebut, yang pasti punya historinya sendiri.

Ketiga, setiap Lorong Wisata harus punya karakter berbeda. Jangan sekadar dekorasi warna-warni tanpa menghadirkan kekhasan dan ciri dari masing-masing lorong. Memang, pada awalnya, akan terlihat indah saat catnya masih baru, tapi rentan pudar oleh waktu. Lorong-lorong yang hadir sekadar belo-belo ini juga tidak punya daya tahan, dan terancam terabaikan setelah warna-warninya mengelupas.

Keempat, pengembangan Lorong Wisata sebaiknya dengan perencanaan matang. Harus diakui, ada banyak Lorong Wisata yang dibuat tidak dengan perencaan matang, integratif dan berkelanjutan. Hanya sekadar diklaim sebagai Lorong Wisata setelah pengecatan, dengan penataan pot-pot secara darurat, simsalabim. Lorong Wisata tak boleh hanya mengandalkan cat dan gambar warna-warni sebagai spot foto.

BACA JUGA:  Sosok Si Abang Kumis Nursalam, Orang Bugis Toraja yang Ikut Nahkodai Rumah Besar Guru

Perlu ada atraksi dan agenda kegiatan di lorong yang dibuat secara reguler. Dengan begitu, lorong jadi hidup, tidak monoton, dan akan mendinamisasi aktivitas dan kreativitas warga. Lorong Wisata perlu menyusun kalender event dengan promosi yang masif pada berbagai platform digital. Bila ada kalender event yang mengangkat seni budaya setempat akan jauh lebih menarik. Materi pertunjukkan dalam kegiatan ini pun bisa dikemas jadi konten digital untuk edukasi dan literasi.

Lihatlah nasib Lorong Garden di Jalan Toddopuli II, Kelurahan Kassi-Kassi, Kecamatan Rappocini yang pernah dikunjungi Menteri Luar Negeri Australia, Julie Bishop, dan Duta Besar Australia untuk Indonesia, Paul Grigson, pada Selasa, 22 Maret 2016. Saat itu, sebelum meresmikan gedung Konsulat Jenderal Australia di Wisma Kalla, Jalan Dr Sam Ratulangi, Julie Bishop meninjau Lorong Garden yang merupakan kebun mini tanaman hidroponik. Negeri Kanguru itu memang sebelumnya turut berperan membantu pelaksanaan Lorong Garden di Jalan Langgau (https://nasional.tempo.co).