PAK HARTO, PAHLAWAN NASIONAL DAN KISAH KACAMATA MERAH MUDA

-000-

Jawaban pertama: karena ingatan banyak orang bukan teori, melainkan tanah yang pernah diinjak, perubahan yang memang terjadi di era Pak Harto.

Sekolah yang berdiri, irigasi yang mengalir, pasar yang tertata. Itu semua benda nyata, bukan wacana, bukan omon-omon. Itu warisan konkret dari era Soeharto.

Jawaban kedua: citra paternal yang melekat. Soeharto tampil sebagai ayah rumah besar bernama Indonesia: Bapak Pembangunan.

Ia tegas, protektif, tidak banyak bicara.
Dalam zaman yang gaduh, citra seperti itu memberi rasa aman: seseorang yang “menjaga malam,” agar rakyat dapat tidur dengan tenang.

Di era Pak Harto, pembangunan ekonomi dimulai berderap kencang. Angka kemiskinan merosot tajam. Gedung, jalan, pabrik dibangun cepatZ

Jawaban ketiga: keteraturan sebagai hiburan batin.
Ketika ekonomi modern bergerak cepat dan rawan gejolak, banyak keluarga merindukan “harga yang bisa ditebak, hidup yang tidak berayun terlalu liar.”

Ingatan tentang keteraturan menjadi selimut, menenangkan kegelisahan hari ini.

-000-

Lalu, layakkah gelar Pahlawan Nasional disematkan kepada Pak Harto?
Pertanyaan itu kembali membelah bangsa.

BACA JUGA:  Hardiknas: Antara Seremoni dan Keberanian Mengoreksi Diri

Di sinilah kita memasuki wilayah yang tak hitam-putih.
Jasa besar Pak Harto itu nyata: stabilisasi ekonomi pasca-hiperinflasi, pelembagaan pembangunan, jutaan orang terangkat dari kemiskinan.

Namun kesalahannya juga tercatat: pembatasan kebebasan, pelanggaran HAM, KKN yang mengakar di penghujung kuasa.

Bangsa yang dewasa tidak menutup satu mata untuk hanya melihat yang ingin dilihat.

Penghargaan pahlawan nasional, jika kelak diberikan — bukan penghapus dosa, melainkan pengakuan atas paradoks manusia.

Kita bisa berterima kasih atas jembatan yang menolong banyak orang menyeberang, sambil tetap mencatat retakannya di hilir sejarah.

-000-

Saya kembali teringat kisah kacamata merah muda itu. Apa jadinya jika melihat realitas tanpa pakai kacamata yang bias.

Dunia kembali kontras: terang dan gelap berdampingan, sebagaimana adanya.

Begitu pula cara kita membaca Soeharto hari ini. Ia bukan sebagai malaikat yang tak pernah salah. Tetapi pak Harto juga bukan bayang yang tak punya jasa.

Kita menimbangnya sebagai manusia besar yang meninggalkan jejak besar: sebagian jejak membuka jalan, sebagian lain mengingatkan kita untuk berhati-hati melangkah.

BACA JUGA:  Kemenangan untuk Semua : Harapan Pemuda dan Mahasiswa SBT Makassar

-000-

Jika esok ia ditetapkan sebagai Pahlawan Nasional, biarlah bangsa ini menulis catatan kaki yang jujur: bahwa gelar itu bukan pemutihannya dari kesalahan, melainkan pelajaran.

Bahwa kita memilih menghormati jasa tanpa menutup mata atas luka.
Bahwa kedewasaan bukan melupakan, melainkan mengingat secara utuh.

-000-

Sejarah bukan album potret berisi gambar terbaik.
Ia adalah film panjang: cahaya dan bayangan, tawa dan tangis, salah dan betul, berkejaran di layar yang sama.

Tugas kita bukan memilih adegan favorit, melainkan memahami seluruh alur, agar besok kita tak lagi mengulang babak yang mestinya sudah kita lewati.***

Jakarta, 7 November 2025

REFERENSI

1. R. E. Elson, Suharto: A Political Biography (Cambridge University Press), 2001

2. Daniel Kahneman, Thinking, Fast and Slow (Farrar, Straus and Giroux),” 2011

-000-

Ratusan esai Denny JA soal filsafat hidup, political economy, sastra, agama dan spiritualitas, politik demokrasi, sejarah, positive psychology, catatan perjalanan, review buku, film dan lagu, bisa dilihat di FaceBook Denny JA’s World

BACA JUGA:  Mengenal Lebih Dekat Prof Hasnawi Haris, Ketua PGRI Sulsel 2024-2029

https://www.facebook.com/share/p/1FkzYGpuHD/?mibextid=wwXIfr