‘’Dalam menghadapi hidup ini, jadikanlah dirimu dicari uang. Jangan kamu yang mencari uang,’’ Arge berpesan, ketika suatu waktu keduanya menginap di Mess Pemda Sulsel Jl.Yusuf Adiwinata Menteng Jakarta. (Menerobos Blokade Kelelawar Hitam,Identitas Unhas, 2010).
Kenangan yang sulit dilupakan Hasan selama di Pos Makassar adalah dua kali melakukan polemik. Pertama dengan teman sepermainannya di Dewan Kesenian Makassar (DKM), Hasan Mintaraga (alm). Gara-garanya, berpangkal pada puisi almarhum yang berjudul Almamater. Kedua, dengan menggunakan nama samaran M.Nawir, Hasan perang pena dengan G.Ries T. Perkaranya, sebuah sinetron produksi TVRI Stasion Ujungpandang.
Berpolemik, menurut pemilik warna favorit biru, hitam, dan abu-abu ini, membuat hati panas dan telinga merah untuk menangkis ‘serangan’ lawan.
‘’Tetapi cukup bermanfaat, karena membuat saya rajin membaca untuk menambah referensi membuat tulisan serangan lawan berikutnya,’’ kata Hasan puluhan tahun kemudian.
Dua puluh tahun berlalu, Hasan pun meninggalkan Pos Makassar. Ia mendirikan media sendiri. SKM JURDIL namanya. JURDIL pun tak bertahan lama. Tak didukung pemasaran plus modal yang memadai, media ini hanya berumur setahun.
Pada tahun 2000, menggaet H.Andi Sanif Atjo, alumni Akademi Administrasi Niaga (AAN) Negeri Makassar tahun 1975 ini mengurus Surat Izin Usaha Penerbitan Pers (SIUPP) ke Menteri Penerangan yang waktu itu dijabat Yunus Yosfiah. Bermodalkan SIUPP baru itu, kedua pegiat pers ini mendirikan Surat Kabar Umum FIGUR. Hasan Kuba dipercayakan sebagai Pemimpin Redaksi. Setelah berjalan setahun, FIGUR berubah menjadi majalah berita hingga sekarang.
Profesi wartawan pada tahun 1970-an hingga paruh 1990-an, di mata Hasan Kuba, cukup terhormat dan disegani. Pada masa itu, kata dia, wartawan betul-betul menempatkan diri sebagai mitra pemerintah dan masyarakat. Wartawan yang bertugas di lapangan benar-benar menerapkan kode etik jurnalistik sebagai landasan profesinya. Itulah yang membuat respons pemerintah dan masyarakat cukup positif terhadap pekerja pers.
‘’Tidak seperti sekarang, yang dimulai pada era reformasi, saat Menpen Yunus Yosfiah membuka kran pengurusan SIUPP sangat mudah,’’ kata lelaki yang senang irama pop, daerah, dan dangdut ini.
Akibat terbukanya kran kebebasan pers, kata pemilik lagu favorit ‘’Kemesraan’’ tersebut, jumlah wartawan membludak tak terkendali. Ada media yang sudah tidak terbit lagi, tetapi wartawannya masih terus bergentayangan. Mereka mengaku mencari berita, mewawancarai narasumber, memburu acara jumpa pers, dan sebagainya.












