NusantaraInsight, Makassar — Saat menghadiri acara penyambutan Mahasiswa Baru Departemen Sastra Indonesia Fakultas Ilmu Budaya (FIB) Unhas, Rabu (13/8/2025), saya dikagetkan oleh pesan di media sosial. Sahabat “H. Hasan Kuba” berpulang ke rakhmatullah tiba-tiba tanpa sebelumnya terdengar dia dirawat di rumah sakit.
Akun facebook dan whatsapp wartawan pun ramai menginformasikan berita duka itu di tengah saya belum bisa meninggalkan kegiatan karena seluruh dosen (termasuk yang purnabakti) harus “lapor muka” pada mahasiswa baru.
Saya begitu sering berinteraksi dengan almarhum saat belum lama kami wartawan senior membentuk Yayasan Lembaga Pers Sulawesi Selatan (YLPSS) sekitar 10 tahun silam.
Almarhum sebagai Sekretaris YLPSS dan saya sebagai ketua yang hingga kini belum diganti-ganti. Pendiri yayasan ini satu demi satu pergi.
Berawal dari Pak Dahlan Kadir, Pak Burhanuddin Amin, Razak Kasim, Mahmud Sallie, kini menyusul pula rekan H.Hasan Kuba. Setiap ada surat yang hendak saya tandatangani, almarhum selalu menelepon akan ke rumah pagi-pagi sebelum saya ke kampus,
Pada awal-awal terbentuknya yayasan ini, kegiatannya juga cukup padat. Kesediaan almarhum Burhanuddin Amin pada setiap kegiatan Indonesia Pos Media Group menggandeng YLPSS dalam berbagai kegiatan pendidikan dan pelatihan wartawannya, ikut mendongkrak popularitas nama lembaga ini.
Akibatnya ada teman-teman wartawan di Parepare juga ingin bergabung dan hendak membentuk cabang di kota niaga itu. Namun saya selalu menampik dengan alasan belum diatur di dalam anggaran dasar dan anggaran rumah tangga (AD/ART).
“Kita perlu merevisi AD/ART dulu, sehingga eksistensi YLPSS di daerah seara legal dapat dipertanggungjawabkan,” saya berdalih.
Popularitas YLPSS yang sempat menghadirkan orang nomor satu Sulawesi Selatan dalam satu kegiatan kolaboratif Indonesia Pos Media Group-YLPSS yang diadakan beberapa waktu lalu, membuat saya pun dilaporkan ke PWI Pusat lantaran membentuk yayasan itu.
Bahkan saya diancam akan dipecat sebagai anggota PWI, suatu gertakan yang sebenarnya tidak dimiliki PWI Cabang Sulsel.
Saya menjelaskan kepada Sekretaris Dewan Kehormatan PWI Pusat Sasongko Tedjo saat secara kebetulan waktu itu sedang di Jakarta dan undangan masuk ke telepon saya.
Setelah saya jelaskan, jelas tidak ada masalah karena PWI Pusat pun sering berkolaborasi dengan Lembaga Pers Dr.Soetomo yang merupakan organisasi sejenis yayasan.
Terakhir, kami bertiga, saya, Hasan Kuba, dan Razak Kasim, membuka rekening yayasan di salah satu bank di kampus Unhas. Jelas, rekeningnya sudah diblokade oleh Pusat Pelaporan Analisis Transaksi Keuangan (PPATK) karena sejak dibuka dulu, rekeningnya mulai tidur.












