“Ustad, saya ingin mengingatkan nasihat Sang Guru itu,” katanya pelan namun sungguh-sungguh.
“Kenapa tidak dicoba praktekkan nasihat baik tersebut? Saya orang media. Tidak ada gunanya kasus ini jika akhirnya menjadi viral, sekalipun Ustad berada di pihak yang benar. Apa yang dicari dan apa yang didapat jika keadilan ditegakkan dengan laporan balasan atau memviralkan perkara ini? Pada akhirnya, semuanya sama-sama akan menjadi abu.”
Firman Lafiri menyampaikan pandangannya dengan ketulusan yang menembus batin saya.
Saya tertegun. Dalam diam, saya membenarkan kata-katanya.
“Saya pun tidak sadar bisa menyampaikan pendapat ini,” lanjut Firman, “ini karena teringat nasihat Sang Guru. Terus terang, nasihat itu juga menampar saya. Memang berat, tapi begitulah cara Allah menguji kita—agar kita tidak kehilangan harga diri, martabat, dan arah hidup. Yang terpenting, kita masih punya Allah sebagai Tuhan kita, dan Muhammad ﷺ sebagai Rasul kita.”
Kami pun lama terdiam, masing-masing larut dalam perenungan sendiri.
“Saya sangat suka mentadabburi ayat 5–6 Surat Al-Insyirah,” kataku pelan,
Fa inna ma‘al-‘usri yusrā. Inna ma‘al-‘usri yusrā.
“Bersama kesulitan ada kemudahan. Saat pelatihan Quantum Ikhlas di Bandung dulu, saya mencoba memaknai ayat ini begini: justru kesulitan itulah kemudahan.”
“Yes,” sahutnya mantap, “kesulitan ini memang kemudahan. Tak ada yang perlu ditakutkan, ulama sekelas Buya Hamka saja pernah mengalami hal ini. “
Saya menarik napas panjang.
“Saya siap menghadapi hukuman dunia, jika harus ‘menginap’ di Hotel Prodeo—yang saya sebut sebagai pesantren kehidupan. Insya Allah, saya akan menjadikannya tempat untuk menepa dan memperbaiki diri, menambah, dan memperdalam ilmu agama. Agar saya tidak sekadar menjalani hukuman, tetapi juga memperoleh manfaat yang kelak mengubah arah hidup saya.” Suara saya bergetar dan hati saya berdesir.
Karena waktu Zuhur telah tiba, kami pun berpamitan. Salaman dan pelukan hangat dari sahabat itu kembali menguatkan jiwa saya.
“Terima kasih telah menguatkan saya, Ustad. Insya Allah, sesuai nasihat Sang Guru, saya akan meminta maaf dan memaafkan semua orang yang telah berbuat zalim kepada saya. Juga kepada siapa saja yang telah terganggu, terluka, sakit hati atas semua kelakuan saya. Terima kasih dan mohon maaf kepada Polisi, Jaksa, Hakim serta Pengacara yang menangani kasus saya. Juga Spesial kepada istri saya dan keluarga dan kerabat yang telah empati, maka dengan tulus saya mendoakan semoga kelak kita semua menjadi ahli surga, Aamiin Ya Rabb ”












