NASEHAT GURU MULIA

Oleh Aslam Katutu

NusantaraInsight, Makassar — Seakan-akan nasihat itu berulang dua kali, dari dua sosok Guru yang berbeda. Yang pertama terjadi pada tahun 1996, ketika saya tengah diuji persoalan hidup yang begitu dahsyat. Dalam keguncangan batin itu, saya bersua dengan seorang Guru Muda yang memberikan nasihat sangat singkat, padat, dan menohok.

Kalimatnya sederhana, tetapi menghantam tepat ke pusat kesadaran, seperti pusaran puting beliung yang mengguncang hati dan pikiran karena dalamnya makna yang terkandung sangat mendalam.

Guru Muda tersebut kini dikenal luas sebagai dai kondang dari Pesantren Daarut Tauhid Bandung, Aa Gym. Setelah saya menumpahkan kisah ujian yang saya alami dengan derai air mata, beliau hanya tersenyum tenang lalu berkata,

“Kita serahkan semuanya kepada Allah, ya.”
Terus terang, saat itu saya merasa berhak mendapatkan nasihat yang lebih teknis dan langsung menyentuh persoalan yang sedang saya hadapi. Namun beliau melanjutkan dengan kalimat yang justru membuat saya semakin terdiam,

“Nanti kita berdoa di depan Ka’bah.”
Alih-alih merasa lega, saya justru semakin bingung. Apa maksudnya? Bagaimana mungkin kalimat sesederhana itu menjadi jawaban atas badai besar yang sedang saya hadapi? Namun waktu membuktikan, di situlah hikmah itu mulai terbuka. Tak lama berselang, Allah benar-benar menggerakkan langkah saya untuk berangkat umrah untuk pertama kalinya, agar saya dapat bermunajat langsung di hadapan Ka’bah, menyerahkan seluruh beban jiwa yang selama ini tak sanggup saya pikul sendiri. Alhamdulillah, berkat ikhtiar itu Persoalan hidup yang saya alami akhirnya terurai, doa saya diijabah oleh Allah.

BACA JUGA:  Profil Narasi Budaya Lembang Pata’padang, Kecamatan Sanggalangi, Toraja Utara

Kini, nasihat itu seakan terulang kembali, kali ini datang dari seorang Guru yang berbeda: Pengasuh Lembaga Dakwah Al Bahjah Cirebon, Buya Yahya. Persoalan hidup yang saya hadapi pun berbeda, di tempat yang berbeda pula. Di Masjid Nabawi, Madinah, pada waktu dhuha, dengan beban hidup yang terasa jauh lebih berat daripada ujian pertama, saya memberanikan diri meminta nasihat beliau untuk mencari jalan keluar.

Dengan suasana batin yang mencengkeram, bercampur antara emosi, kelelahan jiwa, dan kegundahan yang mendalam, saya sampaikan niat saya untuk menepis fitnah keji yang menimpa diri saya. Saya bertanya, apakah untuk membuktikan siapa yang benar dan siapa yang berdusta, saya diperkenankan melakukan mubahalah. Mendengar itu, Sang Guru menasihati saya dengan tenang namun tegas,

“Saya tidak menyarankan melakukan mubahalah, meskipun mubahalah itu pernah dilakukan oleh Rasulullah ﷺ.”