Oleh M.Dahlan Abubakar
NusantaraInsight, Makassar — Ini catatan terakhir pengalaman wartawan Panda Nababan yang saya kutip dari bukunya. Saya suka membaca bukunya ini karena banyak trik dan kenakalannya dalam mengendus informasi sebagai bahan tulisan.
Selain dua pengalaman yang saya tulis sebelumnya, kali ini dia melakukan peliputan investigatif di Bandara Internasional Halim Perdanakusumah Jakarta yang diresmikan Presiden Soeharto 10 Januari 1974, lima hari sebelum pecah peristiwa Malapetaka 15 Januari (Malari) 1974.
Belum dua tahun beroperasi, marak tersiar rumor praktik penyelundupan dan manipulasi di bandara ini. Redaksi “Sinar Harapan” (SH), tempat Panda Nababan bekerja, memandang perlu praktik penyelundupan dan manipulasi diungkap ke publik. Panda Nababan didampingi fotografer Harry Kawilarang pun ditugaskan. Keduanya diberi waktu dua minggu penuh menyusun laporan.
Ada sedikit kegalauan di benak Panda. Kalau bekerja dengan atribut wartawan, jelas akan banyak instansi yang dihubungi bakal tutup mulut. Tidak terbuka memberi keterangan.
Otak Panda pun jalan. Dia putuskan akan menyamar sebagai karyawan Ekspedisi Muatan Kapal Udara (EMKU). Menyaru sebagai karyawan ini, dia sudah dapat memastikan akan memiliki akses luas di Halim. Apatah lagi, dia berkenalan dengan pimpinan salah satu EMKU yang beroperasi di Halim, Gilbert Arhur Pesik.
Gilbert, tak hanya sebagai pebisnis, tetapi juga guru karateka. Dia memiliki idealisme, bahkan muak dengan keadaan di Halim. Panda pun menawarkan kepadanya akan menyamar sebagai karyawan EMKU.
Dia setuju, meskipun penuh dengan keberanian menanggung risiko lantaran mengizinkan Panda menggunakan identitas perusahaanya. Panda pun diberi seragam dan identitas pula.
Dua minggu Panda menyadi “karyawan” EMKU. Bahkan dia sempat memberi “amplop”, sogokan dalam map berisi uang kepada oknum petugas Bea dan Cukai. Juga menyuap penjaga gudang Cardig Air yang dia istilahkan bagaikan pasar, sesuatu yang sudah menjadi “budaya” di Halim dalam mengurus barang.
Di gudang ini, tulis Panda, orang sudah tidak bisa membedakan mana calo dan orang perorangan yang mengurus barangnya sendiri. Kalau seseorang masuk ke gudang itu, tidak ada yang memperhatikan karena sudah begitu campur baur. Pemandangan yang paling mencolok adalah tingkah lalu oknum petugas BC di gudang itu.
Secara mencolok tanpa memedulikan orang di sekitarnya, mereka ini tampak benar bagaimana menerima biaya siluman atau uang pelicin, baik dari karyawan EMKU, calo-calo, dan perorangan yang mengurus dan menyelesaikan dokumen pabeannya.