Menulis Itu Butuh Imajinasi dan Daya Kreasi

“Gunakan imajinasi, luaskan sudut pandang, dan kreasikan dalam kalimat,” imbuhnya, sekaligus memberi saran.

Dia lalu memaparkan beberapa varian kalimat pembuka yang bisa dijadikan sebagai alternatif. Menurutnya, sebagai penulis, kita bisa memulai tulisan dengan menggambarkan keadaan, dengan opini, pendapat atau kalimat pernyataan. Bisa pula memulai kalimat pembuka dengan quotes atau kutipan, yang menggunakan bahasa Indonesia, bahasa daerah atau bahasa asing.

Selain itu, bisa juga kita memulai kalimat pembuka dengan potongan larik puisi, atau lirik lagu, atau dengan nuansa lokal yang menggunakan pappasang atau paseng. Pada saat itu, dia lalu memutar lagu “Kepada Noor” dari Panji Sakti dan “Asmalibrasi” dari Soegi Bornean, dari perangkat gawainya. Dua lagu ini dijadikan contoh lirik lagu dengan muatan puitis yang kuat.

Selanjutnya, kalimat pembuka bisa pula menggunakan cuplikan dialog yang kuat, penggambaran karakter tokoh, atau kutipan dialog yang dramatis maupun yang romantis. Ada contoh dialog antara Zainuddin dan Hayati, dalam film “Tenggelamnya Kapal Van der Wijck”, yang ditampilkan.

BACA JUGA:  Erick Thohir Berhasil Obati Kekecewaan Pengurus Olahraga

Singkatnya, menurut Rusdin Tompo, semua bentuk kalimat pembuka sangat mungkin digunakan seorang penulis. Tinggal bagaimana dia mengembangkan imajinasi dan daya kreasinya, dan sesuai konteks tulisan yang mau disampaikan.