Menularkan Spirit Menulis di SMPN 6 Polongbangkeng Utara Takalar

Laporan: Rusdin Tompo (Penulis, dan Koordinator SATUPENA Sulawesi Selatan)

NusantaraInsight, Takalar — Buku dan aktivitas menulis mempertemukan saya dengan banyak orang di berbagai tempat. Saya akan selalu meringankan langkah bila ada orang yang mengajak ke tempatnya, bertemu, guna membicarakan rencana penulisan buku.

Itulah alasan mengapa saya bisa sampai di SMP Negeri 6 Polongbangkeng Utara, Rabu, 28 Januari 2026. Sekolah yang berada di Desa Kale Ko’mara, Kecamatan Polongbangkeng Timur, Kabupaten Takalar ini, berjarak sekira 42 km dari Kota Makassar.

Cuaca yang tak menentu bukan kendala ketika niat sudah dimantapkan. Saya tambah bersemangat, ketika Erma Mapparenta, S.Pd, M.Pd, mengirimkan video pendek yang memperlihatkan lokasi sekolahnya.

“Sekolah kami di atas bukit, dengan latar pemandangan Bendungan Pamukkulu di depannya,” kata Bu Erma, saat menjapri saya via WhatsApp, beberapa hari sebelumnya.

Erma Mapparenta merupakan Kepala UPT SPF SMP Negeri 6 Polongbangkeng Utara. SK-nya sebagai kepala sekolah tertanggal 8 Desember 2025.

Sebelumnya, perempuan berkacamata ini mengajar di SMP Negeri 1 Mangarabombang. Di sekolah ini dia mengabdi sebagai guru mulai 13 Maret 2020 sampai dengan 7 Desember 2025.

BACA JUGA:  Keren Kegiatan Ini; Catatan Saya Memenuhi Sejumlah Lembar Kertas

Jadi, boleh dikata, baru lebih sebulan dia diamanahkan memimpin SMP Negeri 6 Polongbangkeng Utara. Sekolah ini terdengar unik, meski namanya SMP Negeri 6 Polongbangkeng Utara, tetapi berada di Polangbangkeng Timur.

“Begitu memang nama sekolah kami. Tidak bisa diganti,” ujar Bu Erma, saat saya bersama Haeruddin Ahar Daeng Nassa, yang dikenal sebagai Pasinrilik, sudah berada di sekolahnya pagi itu.

Saya dipertemukan dengan Bu Erma dalam suatu kegiatan Perempuan PGRI Sulawesi Selatan, yang diketuai Dra Hj Hendriati Sabir, M.Pd. Kegiatan ini hendak mendorong guru-guru yang tergabung dalam organisasi itu untuk menulis buku.

Bu Erma termasuk yang proaktif berkomunikasi. Dia mau menulis memoar sebagai seorang guru. Saya malah sudah membuatkan daftar pertanyaan untuk dijawab. Ini salah satu metode yang biasa saya gunakan. Dalam rangka menulis memoar itulah saya ke sekolahnya.

Saya membawa beberapa buku untuk didonasikan. Ada pula buku karya murid-murid SD yang ditulis sebagai hasil kegiatan menulis kreatif dan pengembangan minat bakat (ektrakurikuler).

Juga ada buku kumpulan publikasi sekolah sebagai contoh konkret manfaat menulis dan pendokumentasian. Pengalaman mengembangkan inovasi sebagai best practice (praktik baik) ini adalah strategi pendekatan saya: tunjukkan dengan bukti!