Setiap langkah kaki yang mengayuh sandal di tanah berbatu bukan sebatas perjalanan harian. Ia adalah benang-benang kecil yang menyambung asa. Menyambung mimpi-mimpi sederhana: hidup yang lebih tenang, anak-anak yang tetap bisa tertawa, dan hari esok yang layak ditunggu. Tidak megah, tidak heroik, tapi nyata.
Di sinilah harapan dijahit di sela lelah, di ruang sempit, di antara keterbatasan. Ia dijahit dengan kejujuran mengakui letih, dengan keberanian tetap berharap, dan dengan cinta yang diwujudkan lewat berbagi. seperti yang pernah diingatkan Gus Dur, “Kemanusiaan tidak diukur dari seberapa banyak yang kita miliki, tetapi dari seberapa besar kepedulian kita.”
Dan lorong-lorong sempit ini mengajarkan satu hal sederhana yaitu berbagi bukan soal apa yang dimiliki, melainkan bagaimana kehadiran dihadirkan.
Sebab berbagi itu cinta dan cinta selalu menemukan jalannya, bahkan di sela lelah dan keterbatasan.
Parang Tambung, 18/1/2026












