Menjadi Kreatif dengan Menulis

Kreatif dengan Menulis
Rusdin Tompo

“Di era digital, ada banyak pilihan untuk mempublikasikan tulisan-tulisan kita, baik melalui akun medsos, portal, maupun platform digital lainnya,” papar Rusdin.

Untuk menjaga mood agar tetap kreatif, bisa dengan cara mengikuti kegiatan untuk meningkatkan kapasitas diri melalui pelatihan, seminar, workshop dan lain-lain. Juga membiasakan membaca dan berdiskusi, nongkrong, nonton, ngopi, bersinergi dan kolaborasi, atau bergabung dalam komunitas-komunitas yang bisa memberi motivasi untuk terus menulis.

“Ide tulisan itu, bisa dari alam lingkungan, benda-benda sehari-hari, anggota tubuh kita, dan lain-lain. Coba lihat Joko Pinurbo, yang menjadikan celana, telepon genggam, dan peralatan di rumah sebagai tema puisi-puisinya,” jelas Rusdin, yang puisinya “Panggil Aku Daeng dan “Mantra Cinta” diperdengarkan di sela-sela kegiatan workshop.

Karena ini kegiatan workshop, peserta diberi tantangan menulis dalam tempo yang singkat. Metodenya sederhana saja, sehingga mereka berani menulis dan membacakan karya-karyanya itu. Dia memuji tulisan peserta dan mendorong mereka agar rajin dan rutin menulis. Melalui pembiasaan menulis, dia meyakinkan peserta bahwa mereka akan terus berkembang dan bisa menemukan gaya dan ciri kepenulisan sendiri.

BACA JUGA:  Testimoni Ikhsan S. Jusuf Saloko atas Buku Maharku: Pedang dan Kain Kafan

Dia lalu memberi tips praktis menulis. Itu pun dengan catatan bahwa mereka bisa punya cara dan proses kreatif yang berbeda. Dikatakan, manfaatkan semua indra kita dan tulis apa yang pertama kali dirasakan. Gunakan metafora, pengandaian, atau perbandingan. Menulis seperti orang story telling, dengan memindahkan mulut ke tangan, apa yang mau disampaikan.

Tulisan kita yang bertutur dan logis itu, mesti bisa menjawab “mengapa” dan “bagaimana” karena di sanalah kejelasannya. Untuk itu, seorang penulis perlu melakukan riset, harus kuat data dan detail. Deskripsikan tempat untuk membantu orang mengenali lokasi yang kita tulis. Tampilkan kisah atau cerita bagian per bagian seperti potongan-potongan gambar film.

“Jangan malu bertanya. Sebab, bertanya bisa jadi bagian dari wawancara, atau upaya pengumpulan informasi, juga konfirmasi, demi akurasi tulisan kita,” imbuhnya. (*)