Negara-negara bagian Swing States meliputi Pennsylvania, Michigan, dan Wisconsin.
Apa yang Trump lakukan untuk menang di Swing States? Trump memanfaatkan ketakutan sebagian penduduk terhadap imigran ilegal yang dianggap merusak peluang kerja dan keamanan mereka.
Trump menggambarkan imigran ilegal sebagai “ancaman” terhadap integritas dan ekonomi nasional. Ini menarik simpati kelas pekerja dan mereka yang merasa hidupnya semakin terdesak.
Dengan retorika “America First,” Trump memperkuat pandangan bahwa hanya seorang pemimpin yang berkomitmen pada prioritas nasional yang mampu menjaga Amerika dari pengaruh luar.
Trump menyatakan ini tak bisa dilakukan oleh Joe Biden ataupun penerusnya, Kamala Harris.
Sentimen ini berhasil memengaruhi pemilih di swing states yang merasa terpinggirkan secara ekonomi dan ingin melihat kebijakan yang mendukung pekerja dalam negeri.
Melalui janji untuk memulihkan “kebanggaan Amerika” dan melindungi pekerjaan lokal, Trump juga mendapat dukungan kuat dari kalangan konservatif, nasionalis, dan pekerja kulit putih.
Mereka melihat Donald Trump sebagai pemimpin yang dapat menjaga nilai-nilai tradisional Amerika.
Trump juga mengusahakan agar kekalahannya di kalangan pemilih kulit berwarna—Afrika-Amerika, Hispanik, dan Asia—bisa diminimalisasi.
Trump memilih banyak tokoh Hispanik, kulit hitam, Muslim, dan Asia untuk menjadi juru kampanyenya. Itu untuk mengesankan kepada segmen pemilih minoritas bahwa Trump pun memperjuangkan nasib mereka.
Di segmen pemilih berpendidikan rendah, Trump menjanjikan kemudahan akses ekonomi dan pekerjaan yang berdaya saing tinggi, serta jaminan untuk memerangi inflasi.
Trump juga menggandeng Elon Musk untuk memberi keyakinan kepada para pengusaha bahwa ia adalah calon presiden yang pro-bisnis.
-000-
Dampak Kemenangan Trump untuk Indonesia
Kemenangan Trump tidak hanya menjadi isu dalam negeri Amerika Serikat. Ia juga membawa dampak signifikan bagi Indonesia.
Kebijakan Trump yang cenderung proteksionis dapat menghambat ekspor Indonesia. Sementara retorika anti-imigrasi dan kebijakan luar negeri yang agresif mungkin akan mempengaruhi diaspora Indonesia di Amerika Serikat.
Dari sisi geopolitik, pendekatan Trump yang condong kepada Israel bisa memperumit hubungan Indonesia di kawasan Timur Tengah, terutama dalam mendukung Palestina.
Di sisi lain, hubungan bilateral dalam bidang ekonomi bisa menjadi peluang baru bagi Indonesia jika mampu merangkul kebijakan bisnis Trump yang mendukung investasi langsung asing.
Trump yang pro-bisnis juga bisa membuka peluang kerja sama di sektor energi, terutama dalam proyek eksplorasi energi alternatif.
Dalam sejarah Amerika Serikat, Donald Trump akan menjadi catatan khusus. Karena ia tak hanya presiden pertama yang terpilih dengan catatan bersalah untuk kasus kriminal, yang pernah terkena impeachment dua kali, juga yang paling tua ketika terpilih (78 tahun).
Dan juga ia presiden yang pernah dikalahkan, dan kemudian menjadi presiden kedua kalinya, tidak berturut-turut.
“Trump memang contoh ‘The Mission Impossible.’ Ia simbol bahwa yang mustahil pun dapat diraih.”***
London, 7 November 2024
CATATAN
(1) Approval Rating Joe Biden untuk November 2024; 38,5 persen.
https://projects.fivethirtyeight.com/biden-approval-rating/












