Menelusuri Kembali Xnofobia Tionghoa

Sementara, kondisi pengangguran yang ada di Indonesia juga menumpuk..itu jugalah yang melahirkan kemarahan dan kebencian yang salah sasaran.

Mereka sesama buruh, yang harus bersolidaritas akhirnya terkotak-kotak juga.. walaupun memang begitu ciri dari perkembangan kapitalisme dan kehidupan kita. Mengharuskan adanya pembagian kerja secara radikal yang artinya terkotak-kotak untuk mencapai efisiensi produksi. Tapi Sudah berimbas sampai ke masalah rasial yang tidak sewajarnya.

Toh… yang menyulut api kebencian dan kemarahan itu hanyalah oknum yang mengatur sistem. dan bukan suku, ras, negara, atau ideologi minoritas itu yang menjadi sasaran kebencian dan kemarahan kita.

Orang orang bermata sipit, seperti Abeng dan buruh TKA dari Tionghoa, juga mencari pundi pundi uang yang terselip diusaha dan kerja keras mereka, demi kelangsungan hidup yang semestinya..

Apakah yang bisa mereka makan tanpa harus membelinya dengan uang. orang orang petapak bumi, yang menziarahi setiap makam kepemilikan bersama, di tanah yang memiliki tuan tuan dan kertas surat kepemilikan pribadi.

Kehidupan memanglah rumit. Tapi kita mempunyai cinta kasih yang melebihi binatang. Dan salah satu puncak dari kerendahan hati adalah menghormati nilai-nilai kemanusiaan itu.. karena terlepas dari akal, yang membedakan kita dengan hewan adalah rasa kemanusiaan, yang bagi Pram menyatukan manusia yang satu di ujung barat dan manusia yang satu di ujung timur..

BACA JUGA:  MANTRA PEMBERDAYAAN