Penulis; Bambang S Noh
NusantaraInsight, Ambon — 14 tahun lalu, saat masih belajar di bangku SD saya pernah bermain dengan seorang anak keturunan Tionghoa di sebuah dermaga depan gudang kopra milik kakeknya.
Kelihatan dari postur tubuhnya yang mungil ia kurang lebih baru berumur 1 tahun lebih.
Saat sedang duduk menunggu motor kayu (transportasi laut yang membawa orang orang dari desa Galala menuju Labuha). Anak itu tiba tiba menghampiri saya dan bermain dengan riang. kulit putihnya yang mulus tak ada bekas bekas luka, urat-uratnya kelihatan seperti orang-orang yang memiliki kulit putih pada umumnya.
Ia bersama ibunya saat itu keluar mungkin sedang mencari udara segar. Dan siapa kah yang bisa menolak bermain dengan anak-anak lucu seperti anak seorang Tionghoa yang belum saya tahu namanya. Saya pun tak bisa menolak. dan kami hanyut dalam kegembiraan. Begitulah Dua anak yang tak saling tahu menahu satu sama lain bermain bersama.
Betapa indah masa kecil itu. Masa keberanian, masa bermain tanpa harus memilih kawan. siapa saja kita temani.
Kakeknya adalah orang terkenal di desa itu. Abeng orang orang di desa memanggilnya. Beliau berdagang sama seperti orang-orang Tionghoa yang ada di indonesia pada umumnya walupun tidak semuanya, ada juga yang bertani menanam lada, tebu dan lain lain. Tapi pasti beliau bukanlah orang yang tergiur dengan kekayaan. sebab kelihatan dari tokonya. walaupun luas, tapi sangat sederhana.
Kali ini saya mengira-ngira, Mungkin saja buyutnya, adalah korban dari penggelandangan J.P Choen, yang mengirim armada untuk menculik warga pesisir di Tiongkok untuk di bawa ke Batavia pada masa penjajahan, yang pada akhirnya membuat penjajah ketakutan pasalnya jumlah mereka lebih sedikit di bandingkan dengan orang orang Tionghoa itu. Pun, mereka tidak bisa diperalat oleh penjajah. akhirnya penjajah melakukan pembatasan dengan alasan keamanan.
Teman saya pernah bilang ke-saya, bahwa apabila terdapat orang orang Cina di suatu wilayah, ekonomi wilayah itu pasti berkembang. Pandangan teman saya itu, rupanya adalah pandangan umum yang turun-temurun.
Saya juga pernah menguping pembicaraan orang orang tua di kampung tentang hal itu mereka menyebutkan kata yang sama dengan sedikit variasi.
Ya..mungkin begitu juga bagi saya. Masyarakat mungkin sedikit terbantu dengan kehadiran Abeng yang membeli kopra milik warga desa dengan harga yang beda tipis dengan di kota atau kabupaten. Informasi itu juga dari teman teman saya yang sering menjual kopra. Setidaknya masyarakat tidak harus membawa kopranya ke kota atau kabupaten untuk mendapat harga yang memuaskan saat itu.