Saya mencatat, beberapa nama penting yang hadir di antaranya (tanpa gelar): Rektor Unhas periode 2006-2014 Idrus A.Paturusi, mantan Direktur Program Pascasarjana Andi Husni Tanra & Nyonya, pakar Ekonomi Unhas Marzuki, Dekan Fakultas Ekonomi dan Bisnis Abdul Rahman Kadir, Guru Besar UIN Alauddin Qasim Mathar, mantan Ketua Bappeda Sulsel S. Ruslan, mantan Ketua Dewan Mahasiswa Unhas Taslim Arifin dan Pudji Astuti Daud, politisi Yagkin Pajalangi, Niniek Lantara dan Zulkarnain Latief, Syahrir Arief dan Hetty, mantan Dekan Fakultas Kesehatan Masyarakat Aminuddin Syam, purnabaktiwan dosen FEB Unhas Tadjuddin Parenta, anggota DPRD Sulsel Nikmatullah, mantan Dekan Fakultas Kedokteran Gigi Unhas Zulkilfi, mantan Rektor Universitas 45 Andi Jaya Sose, pensiunan karyawan BNI Takwir Kamba, M.Dahlan Abubakar & Nyonya dan mohon maaf beberapa nama lain yang saya tidak ingat.
Asmawi yang malam itu ditemni istrinya, Aryani (Ani) Soemarmo. menceritakan, selesai sarjana, tidak berapa lama setelah keluar tahanan Kodam XIV Hasanuddin dan Kodim 1408 BS/Ujungpandang. Di dalam tahanan selain Asmawi terdapat sejumlah aktivis mahasiswa Unhas, di antaranya Taslim Arifin (Ketua Dewan Mahasiswa Unhas, dari Fakultas Ekonomi), A.Razak Thaha (Kedokteran), Achmad Ali (Hukum), Nursyamsu Saiman (Sastra), Fachry Ammari (Sospol) — ketiga yang disebut terakhir sudah meninggal dunia — dan Qasim Mathar (IAIN Alauddin).
Ketika di dalam tahanan, mereka didatangi oleh salah seorang tahanan politik. Dia banyak bercerita tentang kehidupan di tahanan KIS. Katanya, jika sudah masuk ke rumah tahanan itu tidak jelas kapan keluarnya. Juga kelak tidak tahu mau jadi apa?
Mendengar cerita tahanan itu, kata Asmawi, sudah mulai merancang-rancang apa yang akan dilakukan kelak. Misalnya, Nursyamsu Saiman yang akrab disapa Ancu (meninggal 2019 di Bandung), mengatakan akan menjadi seniman saja. Abd.Razak Taha (Atja) akan menjadi dokter swasta, dan Fachri Ammari oleh orang tuanya digadang-gadang jadi sekretaris daerah dan dia menangis membayangkan cita-citanya itu di dalam tahanan.
“Dia akhirnya menjadi sekda di tanah kelahirannya, Ternate, “ujar Asmawi.
Dalam rekam digitalnya, Fahri Ammari juga tercatat sebagai salah seorang tokoh pendidikan di Tarnate. Pada peringatan Hari Pendidikan Nasional 2017, sivitas akademika Universitas Khairun (Unkhair) Ternate berziarah ke makam tokoh-tokoh pendidikan di daerah itu, termasuk di antaranya Fahri Ammari.
Kepemimpinan pelayan
Setelah selesai menulis skripsi dan meraih ijazah sarjana tahun 1979, Asmawi melapor ke Pak JK di PT Haji Kalla.












