Literasi Perubahan Iklim dan Positive Journalism

Oleh: Rusdin Tompo (Penggiat Sekolah Ramah Anak, dan Koordinator Satupena Sulawesi Selatan)

NusantaraInsight, Makassar — Fenomena anak-anak yang ke sekolah membawa mini fan, kelas yang menggunakan kipas angin atau air conditioner (AC), sekolah yang diliburkan akibat kebanjiran dan cuaca ekstrem, sesungguhnya bisa menjadi pintu masuk bagi pembelajaran terkait perubahan iklim.

Sebab, fenomena alam yang telah menjadi isu dan agenda global tersebut sudah dirasakan dampaknya dalam keseharian anak-anak. Sehingga kesadaran kritis mereka perlu ditumbuhkan supaya terbentuk perilaku ramah lingkungan sejak dini dan berkelanjutan.

Dalam kaitan ini, sekolah memainkan peran penting bagi terbentuknya karakter anak-anak yang bertanggung jawab bagi lingkungan sekitarnya.

Anak-anak bisa belajar ilmu pengetahuan, sains dan teknologi, mengembangkan bakat dan kreativitasnya, tetapi sekaligus berpartisipasi sesuai usia dan kematangannya bagi alam semesta.

Itulah yang sedikit sempat saya kemukakan dalam kegiatan All Climate Change Reporting Project – Workshops and Field Visit, Supporting Climate Reporting in Indonesia Newsrooms, Selasa, 10 Maret 2026. Kegiatan ini diselenggarakan oleh Australia-Indonesia Center Lab UNHAS.

BACA JUGA:  Mengenang Awal Reformasi 1998 Dari Ruang Rawat Inap Kutonton Presiden Berganti

Tulisan ini merespons sambutan Rektor UNHAS, Prof Jamaluddin Jompa, via zoom meeting, kala itu, yang mendorong agar media terus menyuarakan isu perubahan iklim secara konsisten.

*Pengembangan Program Inovasi*

Pendidikan soal perubahan iklim, sejatinya telah terintegrasi dalam Kurikulum Merdeka.

Pembelajarannya dapat diintegrasikan melalui intrakurikuler dalam berbagai mata pelajaran. Misalnya, dalam mata pelajaran IPA/Sain, anak-anak mempelajari konsep klimatologi, pemanasan global, efek rumah kaca, siklus karbon, dan keanekaragaman hayati.

Pada mata pelajaran IPS/Geografi, anak-anak belajar tentang dampak fisik atmosfer, perubahan pola cuaca, serta akibat sosial ekonomi yang timbul dari adanya perubahan iklim.

Selain itu, pembelajaran dapat pula melalui kegiatan kokurikuler pada Projek Penguatan Profil Pelajar Pancasila (P5), tema gaya hidup berkelanjutan, serta melalui ekstrakurikuler, dalam hal ini Pramuka, klub pecinta alam, atau kegiatan seni budaya.

Tujuannya jelas, yakni membangun climate literacy (literasi iklim), kesadaran kritis, serta kapasitas adaptasi dan mitigasi krisis iklim sejak dini.

Ruang eksplorasi dan kreativitas sudah diberikan oleh Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah (Kemendikdasmen) untuk sekolah dengan membuat panduan bagi pendidik guna menerapkan pendidikan iklim yang relevan dan kontekstual di sekolah.