Saya menelan jeda. “Iqra’” >bacalah< ternyata bukan hanya instruksi untuk mengisi otak, tapi undangan untuk mengenali diri, membaca semesta, dan memahami Tuhan. Jalaluddin Rumi pernah menegur kita, “Ada suara dalam diri yang tidak menggunakan kata-kata. Dengarkanlah.” Khutbah ini terasa bukan ceramah teknis, tapi perjalanan menelusuri ruang batin.
Sang khatib lalu membentangkan lanskap sejarah. Ia menyebut Yunani kuno dengan tradisi filsafatnya Aristoteles, yang mengajari manusia untuk berpikir, bertanya, menggugat realitas. Ia menghubungkannya dengan Ibnu Sina, yang meramu filsafat dan kedokteran menjadi sintesis ilmu yang mempengaruhi dunia selama berabad-abad, keduanya mempengaruhi cara dunia membaca realitas.
Saat sang khatib menyebut nama-nama itu, saya teringat kalimat Aristoteles : “Mendidik pikiran tanpa mendidik hati adalah bukan pendidikan sama sekali.” Masuk akal kenapa literasi dalam Islam tidak pernah memisahkan akal dan iman.
Ya, benar, dalam tradisi Islam, akal dan iman tidak pernah dipisahkan. Keduanya adalah dua sayap yang membuat manusia bisa terbang.
Khatib kemudian menyebut Konstantinopel, kota yang menjadi pusat ilmu pada zamannya. Perpustakaannya dipenuhi manuskrip yang kelak menjadi bahan bakar lahirnya Eropa modern. *_”Tidak ada peradaban yang besar,”_* katanya, “tanpa kecintaan pada literasi.”
Saya terdiam. Apakah kita hari ini masih mencintai ilmu seperti dulu?
Lalu ia menyebut Alexandria. Perpustakaan legendaris yang menjadi simbol ingatan dunia. Saya sontak teringat Umberto Eco yang berkata, “Perpustakaan adalah bentuk ingatan yang paling kuat dari manusia.” Dan rasanya khutbah ini sedang memintal masa lalu dan masa depan dalam satu tarikan napas yang panjang.
Ketika khutbah usai, saya tidak langsung berdiri. Saya duduk lebih lama, seolah baru selesai berdialog dengan diri sendiri. Saya merasa literasi bukan sebatas minat, bukan agenda program, bukan hobi. Ia adalah napas peradaban dan fondasi kewarasan jiwa manusia. Ia membuat manusia ingat dari mana ia datang, apa maknanya di dunia, dan kemana ia harus berjalan.
Keluar dari masjid, kami disambut angin Jakarta, gerimis tipis, dan polusi yang tidak pernah cuti. Tapi anehnya, batin saya terasa sangat sejuk. Istiqlal bekerja dengan cara yang sunyi yakni ia tidak hanya memberi ruang untuk sujud kepada Tuhan, tapi juga ruang untuk pulang kepada diri sendiri.
Di tengah riuh kota, saya merasa sunyi saya kembali ke tempatnya. Entah mengapa, saya merasa sedang belajar satu hal baru tentang peradaban, bahwa ia tidak dibangun oleh gedung-gedung tinggi atau hiruk-pikuk kota, tetapi oleh manusia-manusia yang mau membaca dirinya, sejarahnya, dan Tuhannya.
Dan pada hari itu, di Istiqlal, saya merasa telah membaca satu halaman penting dari buku perjalanan hidup saya sendiri.
*Rahman Rumaday*
Tangerang Selatan, 16/11/2025












