L.E.Manuhua : Lolos Berkat Kamera Tanpa Film

Manuhua
Presiden Soeharto menyerahkan tanda penghargaan Bintang Mahaputra Utama kepada L.E.Manuhua di Istana Negara 15 Agustus 1994. (Foto: Dok.Buku).

Saat kapal memasuki perairan Makassar, Manuhua sempat gemetar dan khawatir. Pasalnya, beberapa mil sebelum kapal Belanda itu merapat di Pelabuhan Makassar, keluar pengumuman. Semua penumpang dilarang turun. Polisi akan masuk ke kapal untuk mencari orang yang kabur dari Ambon. Mendengar pengumuman itu, Manuhua sempat panik, tetapi kemudian mampu menguasai dirinya, hingga tetap tenang. Manuhua memasang strategi. Ia mengeluarkan tustel, lalu masuk ke kamar nakhoda. Ia berpura-pura memotret kiri kanan, padahal kameranya tanpa film.

Begitu pun saat kapal sandar, dia tetap melaksanakan aksinya. Hebatnya lagi, sebelum polisi naik ke kapal, Manuhua malah sudah ’mendarat’ di dermaga. Hebohnya pula, malah sempat menjepret polisi yang akan menggeledah kapal. Ketika dia memotret polisi, seperti layaknya aksi fotografer, dia bergerak mundur. Saat itulah dia bertemu dengan penjemput Ny.Pupela. Manuhua pun segera masuk ke truk yang dipakai menjemput keluarga Pupela. Dia selamat tiba di Makassar.

Tete sebenarnya berniat ke Yogyakarta, yang ketika itu menjadi ibu kota Republik Indonesia. Namun beberapa temannya yang menghadiri sidang Parlemen Negara Indonesia Timur (NIT) menganjurkan agar dia tetap memilih tetap tinggal di Makassar.

BACA JUGA:  Banjir Sumatra, Bukti Bahaya Perusakan Alam dalam Sistem Kapitalisme

’’Orang macam kamu banyak di Yogya, justru kamu sangat dibutuhkan di sini,’’ Soegardo, pimpinan Mingguan Pedoman, menyarankan seperti ditulis Asnawin di Koran PWI Sulsel (Maret 2009),

Tete bergabung dengan Mingguan Pedoman yang terbit 1 Maret 1947, bersama Soegardo dan Henk Rondonuwu. Media inilah yang kemudian menjelma menjadi Harian Pedoman Rakyat (PR) hingga ’’akhir hayat’’-nya tahun 2007.

Pertemuan Manuhua dengan Sugardo sebenarnya bermula di pembukaan Parlemen NIT. Saat itu Manuhua bertugas meliput. Selain berkenalan dengan Soegardo, Manuhua juga berkenalan dengan Ketua Parlemen NIT Mr. Tadjoeddin Noer, Sukrisno (Antara Jakarta), Siagam (Yogya), dan Wim Latumeten dari Kementerian Penerangan RI.

Setelah Soegardo diusir pemerintahan NIT, karena Mingguan Pedoman yang dipimpinnya tidak disenangi Belanda. Pimpinan Pedoman pun beralih ke Henk Rondonuwu.

Tokoh ini kemudian ditangkap Belanda lantaran media yang dipimpinnya dianggap menghina Ratu Belanda, Juliana. Rondonuwu pada tahun 1948 dipenjara tiga bulan.

Pada tanggal 17 Agustus 1948, selain Mingguan Pedoman, juga terbit media baru yang diberi nama Pedoman Harian. Kedua media ini dipimpin Rondonuwu. Gara-gara dia ditahan, Mingguan Pedoman yang semula tengah bulanan menjadi mingguan, mandek terbit. Pedoman Harian yang terus terbit. Manuhua pun mengambilalih kepemimpinan media tersebut setelah Rondonuwu mengundurkan diri.

BACA JUGA:  Menjaga Ranum Cinta dari Musim 1992: 34 Tahun Langkah Selaras Ilham dan Aliyah

Setahun kemudian (1949), di samping Pedoman Harian, juga diterbitkan Mingguan Pedoman Nusantara. Media terakhir ini merupakan kolaborasi dari tiga media, Pedoman, Mingguan Nusantara, dan Mingguan Pedoman Wirawan.

Nama ini sebenarnya merupakan gabungan rubrik Pemuda (pada Mingguan Pedoman) dengan Majalah Pemuda Wirawan. Semua media ini diterbitkan Badan Penerbit Nasional Pedoman.

Harian Pedoman Rakyat mulai terbit dengan nama itu hingga ‘menemui ajal’-nya mulai November 1950 yang merupakan gabungan dari seluruh media yang ada.

Manuhua pun bertindak sebagai Pemimpin Umum/Pemimpin Redaksi hingga akhir hayatnya, 25 November 2003.

Manuhua termasuk salah seorang yang membidani berdirinya organisasi wartawan Indonesia, PWI Cabang Sulawesi Selatan dan Tenggara tahun 1948.

Tetapi sebagai anggota Persatuan Wartawan Indonesia (PWI) baru tercatat tahun 1954. Nomor Kartu Pers/PWI 23. 0092. 54. P /23. 0168. 53. B.
Lelaki dengan hobby olahraga berburu ini menjalani pendidikan formal di Balai Pendidikan (Taman Siswa) di Ambon pada tahun 1933-1941. Setelah pindah ke Makassar, dia mencoba melanjutkan pendidikan di Fakultas Sosial Politik Universitas Hasanuddin tahun 1960. Namun pada tahun 1964, dia memutuskan berhenti kuliah dan memilih bergelut seratus persen di bidang pers.