Kisah di Balik Buku Iwan Tompo, Maestro Lagu Makassar

Iwan Tompo
Rusdin Tompo (baju merah) saat peluncuran buku

Malam Anugerah KPID Award 2011, yang merupakan perhelatan KPID Award ke-6, diadakan di Ballroom Graha Pena, Makassar, pada 16 Desember 2011. Kepala Dinas Pariwisata Sulawesi Selatan, ketika itu, HM Syuaib Mallombasi, menyampaikan bahwa pariwisata itu butuh promosi dan promosi yang relatif efektif dilakukan melalui media, termasuk media penyiaran.

Untuk memenuhi rasa penasaran banyak orang, di atas panggung KPID Award 2011, Faiz Faizal, yang berpartner dengan Nurul Faidah Anwar sebagai MC, secara berseloroh, mengajukan pertanyaan, “Apakah Iwan Tompo bersaudara dengan Rusdin Tompo?”

Pertanyaan itu disampaikan langsung, usai beliau bernyanyi.

Saya ingat, Iwan Tompo menjawab singkat, “Rusdin Tompo itu teman.”

Kami memang berteman di Facebook, di dunia maya. Dalam keseharian, saya tidak terlalu mengenal dekat beliau, selain melalui karya-karyanya.

Selama ini, saya hanya mendengar beliau bernyanyi melalui tape recorder atau melalui siaran radio. Saya sangat ingin melihatnya bernyanyi live di atas panggung.

Malam itu beliau tampil dalam balutan busana adat yang kental: songkok guru, jas tutup, dan lipa’ (sarung) sabbe’. Warna keemasan yang dikenakannya memancarkan aura kebintangannya.

BACA JUGA:  Bekerja di Radio Bukan Hanya Jadi Penyiar

Sayang, honornya belum bisa langsung dibayarkan karena terkait dengan pencairan anggaran. Penyelenggaraan KPID Award 2011 di pengujung tahun, rupanya berdampak pada pembayaran honorarium yang baru bisa diberikan pada awal tahun 2012.

Pembayaran ‘utang’ honor itu terasa mendesak dan penting lantaran ada kabar yang menyebutkan bahwa Iwan Tompo sedang terbaring sakit. Honorarium yang jumlahnya tidak seberapa itu diantarkan oleh staf KPID Sulawesi Selatan, Syukri Yanci, yang diterima langsung oleh Iwan Tompo di rumahnya.

Ketika ditemui, Iwan Tompo benar sedang sakit. Tepatnya, beliau dalam proses pemulihan. Menurut cerita Syukri Yanci, meski belum pulih sepenuhnya, Iwan Tompo begitu bersemangat menyambutnya.

Topik pembicaraan bukan berkisar tentang penyakit dan kondisi kesehatannya, tapi lebih didominasi seputar kegemaran Iwan Tompo. Apalagi, kalau bukan terkait dengan lagu-lagu Makassar.

Pada kesempatan itu, Iwan Tompo memberikan semacam pengetahuan praktis, bagaimana membedakan lagu-lagu Bugis dengan lagu-lagu Makassar.

Paling mudah, tentu saja dari segi bahasa keduanya yang berbeda. Selain itu, kata Iwan Tompo, sebagaimana ditirukan Syukri Yanci, lagu-lagu Bugis itu musiknya lebih ramai, iramanya lebih riang. Sedangkan, lagu-lagu Makassar lebih mendayu-dayu dengan tempo yang lebih lambat dibanding lagu-lagu Bugis.

BACA JUGA:  Gula Melejit, Rakyat Menjerit!

***

Iwan Tompo merupakan icon lagu Pop Daerah Makassar, walau pada awalnya beliau pernah rekaman lagu Bugis juga. Ketika kita berbicara tentang lagu Bugis-Makassar, maka mustahil kita tak menyebut sosok Iwan Tompo, baik sebagai penyanyi maupun pencipta lagu.

Beliau telah menjadi simbol dan representasi dari lagu-lagu Pop Daerah Sulawesi Selatan. Berkat suara dan lagu-lagunya, Iwan Tompo disejajarkan dengan sejumlah musisi, seniman, dan budayawan di wilayah selatan Pulau Sulawesi ini.