Ketika Sang Pemuda Bertanya

Sang pengajar tidak langsung menjawab. Ia hanya menepuk bahu pemuda itu.

“Nabi pernah bilang…”

_”Sesungguhnya setiap amal itu tergantung pada niatnya.”_ ~ Hadits

Pemuda itu menarik napas panjang.
“Berarti kalau niatnya salah… amalnya bisa sia-sia?”

“Bisa,” jawab sang pengajar tenang.
“Makanya yang paling berat itu bukan berbuat… tapi meluruskan niat.”

Beberapa pemuda lain mulai ikut diam. Tidak ada lagi suara bercanda. Yang tersisa hanya obrolan ringan yang terasa dalam.

“Pak…” satu lagi bertanya,
“Kalau begitu, cara berbakti yang benar itu bagaimana?”

Sang pengajar tersenyum, lalu berkata pelan,

Ada yang berbakti dengan ilmu.
Ada yang dengan tenaga.
Ada yang dengan harta.
Dan ada juga yang dengan doa… yang bahkan tidak pernah didengar manusia.”

Ia berhenti sejenak, lalu melanjutkan,

“Tapi semuanya akan bertemu di satu titik yang sama… yaitu keikhlasan.”

Ia lalu menutup dengan ayat yang membuat malam terasa semakin hidup:

_”Dan mereka tidak diperintahkan kecuali untuk beribadah kepada Allah dengan ikhlas dalam agama.”_ ~ QS. Al-Bayyinah: 5

BACA JUGA:  Drs.Basman,S.H.,M.M, Bukan Orang Baru di PGRI Palopo

Para pemuda itu saling berpandangan. Ada yang tersenyum kecil, ada yang masih menunduk, merenung dalam diam.

Sang pengajar akhirnya berdiri perlahan pamitan.

“Kalau kamu ingin memberi… berilah dengan hati.
Kalau kamu ingin berbakti… lakukan dengan niat.”

Ia menatap mereka satu per satu.

“Karena nanti… yang diingat oleh langit bukan seberapa banyak yang kamu lakukan…
tapi seberapa tulus kamu melakukannya.”

Malam semakin larut.
Lorong kembali sunyi.

Tapi di dalam dada para pemuda itu… sepertinya ada yang baru saja tumbuh.

_Parang Tambung, 19/03/2026_ | Menuju Imsak